Narablog Vs Jurnalis

Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.

“Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,” kata Mat Bloger.

Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. “Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!” Lanjutkan membaca “Narablog Vs Jurnalis”

Iklan
Narablog Vs Jurnalis

Kartu Pewarta Warga Bisa Lolos Tilang?

Perlukah pewarta warga (citizen journalist) memiliki kartu anggota yang berfungsi seperti kartu pers?

Mat Bloger mengajukan pertanyaan itu ketika kami tengah membaca blog Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Di situ ada posting baru mengenai pembagian kartu anggota untuk para blogger, pewarta warga, atau siapa saja yang berminat.

Peminat hanya perlu membayar Rp 25 ribu sampai Rp 45 ribu, tergantung domisili, untuk memperoleh kartu. Mereka yang ingin mendapatkan kartu itu juga diharuskan mengisi formulir pendaftaran, mematuhi kode etik pewarta warga, dan beberapa persyaratan lain. Lanjutkan membaca “Kartu Pewarta Warga Bisa Lolos Tilang?”

Kartu Pewarta Warga Bisa Lolos Tilang?

Belajar dari jurnalis profesional

Bisakah blogger menjadi jurnalis warga? Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga.

Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.

Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. “Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas.” Lanjutkan membaca “Belajar dari jurnalis profesional”

Belajar dari jurnalis profesional

Membuat Blog Komunitas

Mat Bloger tampaknya sedang girang hati. Parasnya berseri-seri sepanjang hari. “Baru terima gaji?” tanya saya.

“Ah, nggak, Mas.” jawabnya. “Saya senang karena mulai sekarang bisa ngeblog terus di rumah sepanjang hari, sesuka hati.”

“Lho, memangnya dulu nggak bisa, Mat?”

“Bisa sih, bisa, Mas. Tapi sekarang lain.”

“Apa bedanya?” Lanjutkan membaca “Membuat Blog Komunitas”

Membuat Blog Komunitas