Menjadi Blogger Gaul

Meski sudah berbulan-bulan ngeblog, Mat Bloger masih merasa ada yang kurang. Dia menganggap jurnal pribadinya itu belum cukup dikenal blogger lain. Jumlah rekannya sesama blogger pun tak bertambah. Padahal ia sudah cukup berusaha, misalnya mengunjungi blog kawan-kawan sekantornya.

“Apa sebabnya, Mas?” tanya Mat Bloger penasaran.

“Sampean kurang gaul, sih, Mat,” saya berkomentar.

“Kurang gaul bagaimana, Mas? Saya sudah blog walking ke mana-mana lo, sudah meninggalkan komentar di blog teman-teman kantor. Kurang apa lagi?”

“Banyak, Mat,” jawab saya. Lanjutkan membaca “Menjadi Blogger Gaul”

Iklan
Menjadi Blogger Gaul

Media Sosial

Mat Bloger sedang keranjingan Obama. Ke mana-mana dia memamerkan pin bertulisan “vote Obama” yang terpasang di dadanya. Layar laptopnya bergambar wajah Obama. Interior mobilnya penuh dengan stiker dan foto Obama dalam pelbagai pose. Di kantor, di warung, di lapangan futsal, Mat selalu memperbincangkan tokoh yang dikaguminya itu.

Tentu saja kita tahu siapa Barack Obama, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat itu. Pekan lalu, Obama mengalahkan Hillary Clinton, pesaingnya dalam konvensi Partai Demokrat. Bukan hanya warga Amerika Serikat yang terjangkit virusnya. Beberapa warga Jakarta, seperti Mat Bloger, ikut-ikutan kena demam Obama yang memang pernah bersekolah di kawasan Menteng.

“Sampean tahu, apa kunci kemenangan Obama ketika melawan Clinton tempo hari, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Nggak, Mat. Saya bukan pengamat politik Amerika. Dugaan saya sih, Obama menang karena dia membawa harapan dan angin perubahan bagi bangsa Amerika. Mungkin juga lantaran faktor lain,” jawab saya asal-asalan. Lanjutkan membaca “Media Sosial”

Media Sosial

Kiblat

Pemain ganda. Begitulah seorang kawan menjuluki saya yang jurnalis sekaligus blogger aktif. Tentu saja ia hanya sekadar meledek, meski saya menganggapnya sebagai sanjungan. Apalagi saya memang tak pernah bermain bulu tangkis sebagai pasangan ganda putra ataupun campuran.

Sebagai pemain ganda dadakan, saya sering ditanya blogger yang ingin menulis seperti jurnalis, juga para jurnalis yang mau menjadi blogger. Ini yang membuat saya tak nyaman karena saya merasa belum menjadi jurnalis yang baik, pun bukan blogger piawai. Meski demikian, suka tak suka, akhirnya saya menjalani peran ganda itu semampu saya. Kepada teman-teman blogger saya berbagi kiat menulis dan dengan para kolega, saya berdiskusi soal blog.

Menurut hemat saya, dua dunia itu, blog dan media mainstream, adalah wilayah yang mirip. Blogger pada dasarnya jurnalis, begitu pula sebaliknya. Yang berbeda hanyalah media, tempat mereka berkarya. Mestinya, kedua pihak gampang untuk saling belajar, bukan malah saling menganggap sebagai ancaman. Lanjutkan membaca “Kiblat”

Kiblat