Narablog Vs Jurnalis

Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.

“Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,” kata Mat Bloger.

Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. “Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!”

“Eits, sampean lupa kasus Mumbai? Siapa yang pertama kali mengabarkan terjadinya serangan teroris ini? Pewarta warga juga, Kang. Dia mengirimkan pesan singkat lewat Twitter. Pesan itu terbaca wartawan seluruh dunia seperti suara sirene pemadam kebakaran. Lalu buru-buru mereka datang ke lokasi. Masih banyak contoh lain, Kang.”

Saya lihat paras Kang Jurnalis makin merah padam menahan amarah. Mat Bloger merasa di atas angin. “Sudahlah, Kang. Terima nasib saja. Profesi sampean sudah seperti dinosaurus. Masa depan ada di ranah digital, dan kamilah masa depan itu.”

Kang Jurnalis ternyata tak mau kalah. “Sampean jangan congkak, Mat. Kabar dari orang-orang seperti sampean itu sering tak akurat. Banyak yang bohong. Publik belum 100 persen percaya. Lagi pula sampean, toh, sulit memperoleh manfaat ekonomi dari jualan kabar macam itu. Kami beda. Informasi itu barang dagangan kami, para jurnalis. Berita buatan saya lebih dalam dan lebih lengkap ketimbang berita sampean, Mat.”

“Siapa bilang kami tak mampu berjualan informasi. Kami punya model ekonomi tersendiri, Kang.”

Saya geleng-geleng kepala mendengar mereka berbantah kata. Keduanya ngotot, merasa paling benar. Padahal dua-duanya tidak salah. Mereka hanya tak saling memahami. Menurut saya, baik Mat Bloger maupun Kang Jurnalis sama-sama melakukan apa yang disebut sebagai jurnalisme proses. Ketika bekerja, Mat Bloger menulis di blog, dan Kang Jurnalis membuat berita untuk korannya. Mereka sama-sama menjalankan sebuah proses. Hanya, prosesnya berlainan.

Orang-orang seperti Mat Bloger bekerja secara spontan. Begitu melihat sesuatu, langsung bisa mengirimkannya ke mana-mana lewat microblogging tanpa mengecek lebih jauh akurasi, keberimbangan, dan kelengkapannya. Cara ini berisiko. Laporan mungkin tak akurat dan dangkal. Tak ada konteks dan penjelasan mengapa sebuah peristiwa terjadi.

Kang Jurnalis tak bisa begitu. Laku jurnalistiknya melewati serangkaian tahap: peliputan, penulisan, penyuntingan, dan seterusnya. Ada hal-hal yang harus dipenuhi, seperti etika, cover both sides, juga check and recheck. Konsekuensinya, laporannya jadi lebih lama muncul. Selain itu, laporan Kang Jurnalis tak memicu interaksi dan diskusi antara si pembuat dan pembaca, seperti halnya tulisan di blog.

Mungkin sekarang mereka harus menerima kenyataan. Kang Jurnalis mesti memahami bahwa wajah dan model industri informasi telah berubah. Saatnya untuk beradaptasi. Sebaliknya, Mat Bloger mesti ingat bahwa pembaca mencari informasi berkualitas seperti yang sudah ditunjukkan Kang Jurnalis. Seandainya mereka mau berubah, khalayaklah yang diuntungkan.

Iklan
Narablog Vs Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s