Prita Dipenjara Karena Gugatan Omni

MAT Bloger mendadak datang dengan paras memerah seperti kerbau disunat. Matanya melotot. Mulutnya berbusa-busa. Tak henti-hentinya dia mengumpat dan memberondongkan sumpah serapah.

“Asem, semprul, sontoloyo. Rumah sakit macam apa itu? Bukannya menolong orang sakit, malah mengirimkan mantan pasiennya ke penjara,” begitu Mat Bloger melontarkan makian.

Saya kaget. Kenapa Mat Bloger mendadak berang tanpa ada angin dan hujan. Sambil meletakkan koran yang sedang saya baca, saya pun menyapa dia. “Waduh, ada apa gerangan, Mat? Kenapa sampean tiba-tiba marah-marah begini? Kalah taruhan?”

“Bukan, Mas,” jawab Mat Bloger. “Saya marah karena ada ibu rumah tangga yang ditahan gara-gara menulis e-mail.”

“Kok bisa, Mat? Apa masalahnya?”

Mat Bloger lalu menuturkan kisah tentang Prita Mulyasari, yang sejak 13 Mei lalu dititipkan Kejaksaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang. Ia menjadi tahanan dalam kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.

“Kenapa dia dianggap mencemarkan nama baik, Mat?”

Mat Bloger mengatakan kasus ini bermula dari surat elektronik Prita pada 7 Agustus 2008. Surat itu berisi keluhannya ketika ia dirawat di Omni. Surat yang semula hanya ditujukan ke teman-temannya itu ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet, dan diketahui oleh manajemen Rumah Sakit Omni.

PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, rupanya menganggap nama baiknya tercemar oleh surat tersebut. Mereka lalu menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana. Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita kalah dalam gugatan perdata. Sedangkan sidang pidananya akan berlangsung pekan depan.

“Terus terang saya merasa prihatin dan bersimpati terhadap Prita, Mas,” kata Mat Bloger. “Saya merasa dia tak layak dihukum seberat itu, bahkan sampai masuk penjara. Ini jelas teror bagi kita, konsumen, yang sering kali diperlakukan tak layak dan tak adil, tapi ketika mengeluh, malah dituduh mencemarkan nama baik.”

“Setuju, Mat. Ini teror. Kita harus melawan. Tapi mungkin juga ada hikmahnya buat kita. Kasus yang dialami Prita bisa menimpa siapa saja, saya atau sampean, juga blogger lain yang kerap menulis keluhan terhadap sebuah produk atau layanan di blognya.

Supaya kita terhindar dari jeratan hukum atau setidaknya mengurangi akibat yang lebih fatal, sampean perlu tahu caranya. Kiat ini penting karena sebagai blogger, sampean tentu tak bisa menghindar dari tuntutan hukum atas segala aktivitas yang sampean publikasikan.

Pertama, sampean tak perlu mencari perhatian dengan membuat judul tulisan yang terlampau provokatif semata-mata demi sensasi dan lonjakan traffic. Cara seperti ini bisa-bisa malah menjadi bumerang untuk kita.

Fokuskan tulisan pada masalah yang sampean alami atau keluhkan, dan bukan terhadap orang/lembaganya. Kritiklah kinerja atau layanan mereka, bukan menjelekkan namanya.

Meski mengritik, sebaiknya sampean juga memberikan solusi. Sampaikan kritik dengan bahasa yang santun agar orang yang dikritik tak merasa terhina dan marah. Lalu jangan segan meminta maaf. Jika kritik atau keluhan sampean ternyata salah, sebaiknya segera meminta maaf.

Terakhir, kalau sampean hendak mengkritik, sebaiknya sampean juga harus siap menerima masukan atau keberatan pembaca. Dengan cara itu, kita mungkin akan terhindar dari komplikasi hukum yang tak perlu.”

Iklan
Prita Dipenjara Karena Gugatan Omni

4 pemikiran pada “Prita Dipenjara Karena Gugatan Omni

  1. Prihatin atas Kriminalisasi Pasien oleh RS Omni International Alam Sutera.

    Terus terang kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kriminalisasi pasien yang dilakukan oleh Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera. Apapun alasan kriminalisasi terhadap pasien tersebut, entah itu (terutama) melalui jalur pencemaran nama baik atau pun alasan lainnya, dipastikan akan menjadi bumerang yang sangat buruk bagi rumah sakit tersebut.

    Seperti diketahui, Prita Mulyasari (32) warga Villa Melati Residence Serpong, Tangerang Selatan yang memiliki anak masing-masing 3 tahun dan 1 tahun 3 bulan mengeluh atas pelayanan Rumah Sakit Omni International Alam Sutera (dikelola oleh PT Sarana Mediatama International).

    Keluhan Prita sebenarnya adalah pengalaman pribadinya sendiri ketika berobat di rumah sakit internasional tersebut. Namun karena merasa dipingpong dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan soal penyakitnya, Prita kemudian mengirimkan email kepada sahabatnya, yang kemudian menyebar luas di berbagai mailing list.

    Pihak rumah sakit rupanya marah dan mengadukan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Akibatnya Prita yang masih menyusui anaknya itu dijebloskan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Tangerang, sejak pertengahan Mei 2009.

    Pertanyannya, pantaskan rumah sakit mengadukan pasiennya, padahal dia mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien ? Bukanlah jika keluhan kecil dari Prita jika ditanggapi secara professional, tidak akan menimbulkan keluhan yang lebih besar ? Bukankah respon yang dilakukan oleh pihak RS Omni Internasional bisa merusak citra rumah sakit secara keseluruhan ?

    Kami salut dan memberikan penghargaan yang baik terhadap Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) dan Dewan Pers yang mengangap bahwa penanganan RS Omni International Alam Sutera terhadap keluhan Prita terlalu berlebihan. Mudah-mudahan, kasus yang buruk seperti ini hanya yang pertama dan yang terakhir yang dilakukan oleh rumah sakit.

    Pada kesempatan yan baik ini kami menghimbau agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari untuk turun tangan menangani persoalan rakyat ini. Bahkan jika perlu, para aktifis konsumen, aktifis perempuan dan anak, serta lembaga bantuan hukum untuk rakyat segera melakukan koordinasi dan komunike bersama untuk menuntaskan persoalan ini secara lebih adil dan lebih beradab.

    Barata Nagaria
    Koordinator
    Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien Indonesia (SAKPI)
    http://anti-kriminal.blogspot.com
    email : barata.nagaria@yahoo.co.id

  2. pelajaran bagus dibungkus dengan cerita menarik. kasus tulisan Prita mestinya tidak perlu ke pengadilan SEPANJANG PENULIS TIDAK MENGANJURKAN ORANG LAIN (to provoke others)AGAR TIDAK BEROBAT KE RS OMNI …

  3. Apa istilah pembeli/pelanggan adalah raja, sudah hilang, saya rasa pihak RS tidak perlu kebakaran jenggot seperti itu jika memang mereka profesional atau merasa tidak bersalah, toh image baik akan muncul dengan sendirinya jika memang pelayanannya baik dan profesional.
    Kalo saya pikir ibu Prita ini merupakan salah satu ibu yang telah dizalimi oleh pihak yang tak bertanggung jawab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s