Video Insiden Jebolnya Situ Gintung

Setelah bendungan Situ Gintung ambrol tempo hari, saya selalu melihat Mat Bloger menenteng handycam di mana pun dia berada. Sewaktu nongkrong di kafe bersama teman-temannya sesama blogger, piknik ke Puncak, atau ke tempat kerja, Mat Bloger tak lupa menyelipkan kamera video tipe terbaru yang baru dibeli di ranselnya. Tumben, pikir saya.

Karena penasaran, saya pun bertanya. “Buat apa kamu bawa-bawa kamera video, Mat? Nggak takut dicopet?”

“Kecopetan itu risiko hidup di Jakarta, Mas. Tapi saya nggak mau kehilangan momen. Saya mau meniru orang-orang itu lo, Mas.” jawab Mat Bloger sedikit kemlinti.

“Orang-orang? Siapa?”

“Itu lo, mereka yang suka mengirim rekaman video bencana alam atau kecelakaan ke televisi swasta.”

“Oh, itu. Namanya perekam video amatir, Mat.”

“Iya, video amatir. Nah, saya ingin mengikuti jejak mereka yang sering mengabadikan peristiwa-peristiwa monumental seperti itu. Tapi karena bencana dan kecelakaan tak pernah memberi tahu kapan datangnya, saya harus selalu membawa kamera video setiap saat agar tak kehilangan momen. Jadi bila kelak saya benar-benar menemukan sebuah peristiwa langka atau unik, saya tinggal merekamnya lalu mengirimkan ke televisi swasta.”

“Wah, boleh juga idemu, Mat. Tumben, sampean cerdas,” saya memuji.

“Teman siapa dulu dong, Mas, he-he-he….”

“Halah, belagu. Tapi sebetulnya sampean tak perlu menunggu kecelakaan atau bencana datang, Mat. Sampean juga tak harus menenteng handycam ke mana-mana setiap hari, dan mengirimkan karya video sampean ke televisi swasta.”

“Kenapa begitu, Mas?”

“Karena untuk menjadi seorang juru kamera video amatir itu diperlukan kreativitas, bukan hanya menanti durian runtuh. Sampean bahkan dapat menghasilkan karya-karya yang lebih informatif, membetot perhatian, tanpa menunggu pesawat jatuh atau Jakarta kebanjiran.”

“Caranya?”

“Buatlah blog video yang saat ini tengah ambil ancang-ancang di depan pintu popularitas ranah daring seiring dengan meningkatnya jumlah penyedia layanan blog video gratis. Blog video bisa diisi dengan rekaman yang serius dan berat, seperti laporan pandangan mata sampean tentang aksi kampanye seorang calon presiden, liputan pertunjukan teater di gedung kesenian, atau makin sedikitnya ruang hijau dan terbuka di Jakarta.

Boleh juga sampean menayangkan rekaman yang ringan-ringan, misalnya cara memasak ayam bulgogi. Bisa juga tip menyetek kaktus. Pengalaman berburu makanan unik di pasar-pasar. Kalau suka film, rekam saja pendapat sampean tentang sebuah film yang baru ditonton, lengkapi dengan komentar atau ulasan teman-teman mengenai film yang sama. Sampaikan dengan gaya sampean sendiri, kalau bisa seekspresif mungkin. Gila-gilaan juga boleh. Pengunjung juga tertarik kepada yang remeh-temeh begini lo.

Unggahlah rekaman video itu ke penyedia layanan penyimpan video lokal, seperti Beoscope, Layar Tancap, NarsisTV, iTeve, atau Webicara.

Layanan seperti itu biasanya menyediakan kode-kode program video yang bisa dikutip lalu dipasang (embedded) di blog kita agar dapat dinikmati semua orang.

Jangan takut salah atau khawatir hasilnya jelek. Sebagaimana kita dulu belajar menulis, makin sering sampean membuat rekaman, lama-kelamaan sampean akan terbiasa, dan bagus hasilnya. Yang penting coba dulu.”

“Oke. Siap, Mas!” kata Mat Bloger sambil memberi hormat.

Iklan
Video Insiden Jebolnya Situ Gintung

Satu pemikiran pada “Video Insiden Jebolnya Situ Gintung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s