Blog Sudah Mati

SESEORANG bertanya kepada Mat Bloger, “Benarkah blog sudah mati?” Mat Bloger, yang tak tahu apa jawabannya, meneruskan pertanyaan tersebut ke saya.

Sebelum menjawab, saya malah balik bertanya, “Kapan matinya? Dikubur di mana, Mat?”

Mat Bloger ngakak. “Sampean ini lo, kalau ditanya selalu ngeles. Ayo dong Mas, dijawab. Benarkah blog sudah memasuki senja kala?”

Saya nyengir. “Bagaimana menjawabnya, Mat? Lha wong yang namanya blog itu masih hidup sampai sekarang. Blog-blog baru malah terus tumbuh dan berkembang. Dan komunitas blogger di Indonesia terus bermunculan.

Situs-situs penyedia layanan blog yang populer di sini, misalnya, Blogger dan WordPress, atau dagdigdug dan Blogdetik, masih terus bergemuruh. Setiap hari selalu ada posting baru di layanan itu.

Jika dulu hanya para early adopter yang memelopori penggunaan blog, sekarang mereka yang tergolong sebagai laggards atawa kelompok yang skeptis terhadap inovasi bahkan ikut-ikutan membuat blog agar tak ketinggalan zaman. Yang tergolong jenis ini antara lain artis, menteri, politikus, dan para calon legislator, yang dulunya tak pernah bersentuhan dengan teknologi. Kenapa dikatakan blog sudah mati?”

“Tapi, kata teman saya itu, banyak blogger yang sudah tak memperbarui lagi blognya. Blogger-blogger yang dulu rajin menulis sekarang menghilang entah ke mana. Saya bisa melihatnya dari RSS reader yang makin sepi. Apakah ini gara-gara Facebook ya, Mas?”

“Mungkin iya, mungkin tidak. Saya memang melihat ada kecenderungan di antara para early adopter, para blogger pelopor, yang jarang memperbarui isi blognya. Barangkali saja mereka sedang jenuh. Mungkin juga mereka menemukan mainan baru yang asyik, seperti Koprol dan Politikana.

Bersama Facebook, Twitter, dan Plurk, layanan baru seperti itu tampaknya berhasil menggaet perhatian para early adopter, dan membuat mereka seolah melupakan blog. Ini wajar-wajar saja. Sifat mereka memang selalu ingin mencoba yang baru.

Meski begitu, saya juga menyaksikan blogger-blogger baru yang baru saja mengenal blog dan terus membuat ranah blog berderak-derak. Kalau kemudian dikatakan bahwa blog sudah mati, itu mungkin yang dimaksud adalah euforianya.

Ingar-bingar blog memang sudah lewat. Dan yang berlangsung saat ini adalah fase datar. Inilah masa ketika blog sudah menempati posisi dikenal secara luas. Tugas para blogger berikutnya adalah merawat blog dan terus memperbaiki kualitasnya.”

“Bagaimana caranya, Mas?” tanya Mat Bloger lagi.

“Misalnya, buatlah blog sampean semakin bersih dan fokus. Singkirkan pernak-pernik hiasan blog yang tak perlu, misalnya jam dan statistik pengunjung. Lihat apakah masih ada banner dan button yang sudah kedaluwarsa, misalnya pengumuman tentang suatu kegiatan yang sudah berlangsung. Jika ada, copot saja. Percayalah, pengunjung blog tak akan kehilangan pernak-pernik itu.

Lalu tulislah terus hal-hal yang memang sampean kuasai saja dan tak perlu ikut-ikutan menulis sesuatu yang sedang populer padahal sampean tak memahaminya. Kalau dulunya sampean blogger khusus masalah sepeda motor, janganlah tiba-tiba menjadi pengamat politik dadakan hanya karena ada pemilu. Sampean pasti akan gagap di tengah jalan.

Tanpa upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki dan merawatnya, bukan tak mungkin blog akan benar-benar mati.”

Iklan
Blog Sudah Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s