Telanjang di Depan Google

Namanya Abdul Hadi Djamal. Dia anggota Partai Amanat Nasional dan Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat. Ia juga memiliki blog di sini. Senin malam awal pekan ini, Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Hadi. Ia diduga menerima uang suap.

Dalam sekejap, blog Hadi diserbu pengunjung. Mereka ramai-ramai meninggalkan komentar bernada caci maki dan hujatan di shout box. Aksi kecaman ini bahkan diberitakan di media-media daring, seperti Tempo Interaktif.

Entah kenapa, pada Selasa malam, blog itu mendadak tak bisa diakses. Blokir berlangsung sekitar satu jam, pukul 18.00-19.00 WIB. Dalam kurun tersebut, pengakses hanya mendapatkan satu halaman bertulisan “Blog ini terbuka hanya untuk pembaca yang diundang saja”.

Ada apa gerangan?

Teka-teki itu terjawab kemudian, setelah blokir dibuka. Aha! Ternyata tampilan dan isi blog telah berubah total. Warna theme blog, misalnya, bersalin dari biru menjadi abu-abu. Header yang semula bertulisan “Ir Abdul Hadi Djamal, MM, anggota Komisi V DPR RI (saat ini kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN) di daerah pemilihan I Sulsel meliputi Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar)” berubah menjadi “Perjuangan tidak berakhir di ujung terali besi, Pak!!!”

“Lantas isinya berubah seperti apa, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Semula blog itu berisi tulisan-tulisan mengenai profil, aktivitas, dan album foto Hadi. Tercantum juga jadwal kunjungan harian Hadi sebagai politikus. Pendeknya, sebuah blog kampanye. Maklum, Hadi memang akan mencalonkan diri lagi sebagai calon legislator pada pemilu mendatang. Tapi sekarang blog itu berisi tulisan-tulisan yang bersifat membela Hadi.”

versi awal

versi revisi

“Komentar orang-orang yang menghujat Hadi masih ada, Mas?”

“Jelas sudah dihapus, Mat. Tampaknya pengelola blog itu, mungkin pendukung atau tim suksesnya, tak ingin citra Hadi semakin tercoreng. Mereka lalu menyalin rupa blog itu. Tapi mereka lupa–atau mungkin–tak tahu bahwa kita punya mesin pencari paling hebat sepanjang sejarah, sebuah perpustakaan peradaban raksasa yang cerdas: Google.”

“Apa hubungannya, Mas?”

“Begini, Mat. Google itu memiliki apa yang disebut tembolok (cache). Ini semacam wadah sementara untuk menyimpan data digital agar sewaktu-waktu dapat diakses kembali.

Data yang tersimpan di tembolok ini bisa berbeda dengan data yang tersimpan di server asalnya. Jadi, meski data di server asal sudah diganti atau dihapus, tembolok Google masih menyimpan duplikatnya.

Dengan demikian, meski blog Hadi itu sudah bersalin rupa, kita masih dapat melihat bentuk awalnya di tembolok Google.”

“Oalah, paham, paham, Mas. Berarti upaya salin rupa itu mubazir ya, Mas?”

“Begitulah. Dari kasus ini, sekali lagi, kita melihat bagaimana kedigdayaan Internet dan Google. Anak kandung teknologi ini membuat kita telanjang, transparan. Ia membongkar praktek-praktek gelap, tipu muslihat, menjadi terang benderang.

Para calon legislator dan tim kampanyenya harus berhati-hati mulai sekarang jika hendak memanfaatkan blog sebagai media kampanye. Mereka boleh saja berkelit dan lolos dari kejaran aparat hukum di dunia nyata. Tapi, jika hendak bermuslihat di Internet, Google bakal mencatat seluruh amal, pahala, dan dosa-dosa mereka. Mereka tak bisa ngumpet lagi.”

“Halah, sampean ini sudah seperti kiai saja, Mas, ha-ha-ha,” Mat Bloger tergelak.

Iklan
Telanjang di Depan Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s