Jemaah Tarekat Al-Fesbuqiyah

MAT Bloger uring-uringan sejak pagi. Tanpa hujan, tanpa angin, dia misuh-misuh sendiri di depan komputernya. Sesekali dia ngedumel seraya menepuk jidat. Dari jauh terlihat lucu sekali tampangnya.

“Saya lihat dari tadi tingkah sampean nggak keruan. Kerasukan setan ya, Mat?” saya bertanya.

“Iya, Mas. Saya kerasukan setan-setan anggota jemaah “tarekat Al-Fesbuqiyah”,” jawab Mat Bloger seraya bersungut.

“Jemaah apa, Mat? Al-Fesbuqiyah? Ha-ha-ha….”

Mat Bloger nyengir, memamerkan tampang bloonnya. Jemaah yang dimaksud Mat Bloger adalah para pengguna layanan jejaring sosial Facebook. Teman-teman kantornya memang keranjingan layanan daring yang tengah naik daun ini.

Mat Bloger pun tak mau ketinggalan. Mereka menjadi bagian dari anggota jemaah Al-Fesbuqiyah Indonesia yang jumlah totalnya sudah lebih dari 1.380.000 pada akhir bulan ini.

Nyaris setiap detik, setiap menit, mereka membuka Facebook hanya untuk mengetahui apakah ada perubahan status teman, kiriman pesan atau foto, atau permintaan teman baru.

“Tapi saya jadi bingung, Mas,” kata Mat Bloger. “Jemaah Al-Fesbuqiyah ini lama-lama mirip orang-orang Galia di komik Asterix. Gila. Absurd. Irasional.”

“Maksudmu?” saya bertanya.

Mat Bloger lalu menjelaskan bagaimana tingkah polah para pengguna Facebook yang menurut dia mulai tak masuk akal. Di media massa, misalnya, bertebaran berita-berita yang berkaitan dengan Facebook. Ada pria ditangkap polisi, seorang istri meminta cerai gara-gara suaminya mengubah status dari menikah menjadi lajang, seorang gadis meminta putus karena pacarnya berselingkuh setelah melihat foto mereka terpampang di halaman profil teman lain. Semua gara-gara tarekat Al-Fesbuqiyah.

“Ini tadi malah ada seorang calon legislator yang meminta di-add sebagai teman. Padahal saya tahu dia bukan kandidat di daerah pemilihan saya. Ngapain dia minta jadi teman saya, Mas? Memangnya saya mau milih dia? La wong daerah pemilihannya saja beda.”

“Ha-ha-ha…,” saya tergelak mendengar cerita Mat Bloger. Calon legislator itu mungkin belum memahami betul cara bergaul melalui Facebook.

Tapi dia tak sendiri. Saya juga mulai merasa Facebook telah mengubah pandangan, nilai-nilai sosial, hdup banyak orang. Seorang teman bercerita, Facebook bahkan memberi definisi baru tentang “teman”.

Bagi para anggota jemaah daring ini, teman adalah orang-orang yang mereka lihat fotonya terpampang di Facebook atau mereka yang menjadi anggota jaringan kawan. Tak peduli apakah orang itu benar-benar dikenal di dunia nyata atau tidak, mereka tak segan mengajukan permintaan sebagai teman di Facebook. Perilaku ini tentu saja jarang terjadi di dunia nyata.

“Sampean pasti juga belum pernah tiba-tiba diajak berkenalan oleh seseorang di halte bus kan, Mat? Saya rasa sampean juga tak pernah bertukar foto dengan orang yang hanya sampean tahu nama dan wajahnya. Tapi lihat perilaku kita di Facebook. Sedikit-sedikit minta add friend.”

“Iya betul, Mas. Dan anehnya lagi, teman-teman saya menggunakan Facebook hanya untuk menyapa teman-teman kantornya sendiri. Lalu mereka ngobrol di wall. Bertukar kabar dan foto. Kenapa mereka nggak bertemu dan ngobrol langsung saja? Toh meja mereka bersebelahan. Ini kan absurd, Mas,” kata Mat sambil geleng-geleng kepala.

“Ya, seperti kita sekarang, Mat. Ngobrol lewat Yahoo! Messenger, padahal meja sampean di depan saya.”

“Oh iya Mas, ha-ha-ha…. Kita semua benar-benar penduduk Galia.”

Iklan
Jemaah Tarekat Al-Fesbuqiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s