Kontroversi Puyer dan Ponari

Puyer dan Ponari. Itulah dua kata kunci yang beberapa hari belakangan ini paling dicari orang di Internet. Publik ingin mengetahui informasi mengenai puyer setelah di milis-milis dan beberapa blog muncul perdebatan tentang manfaat dan mudaratnya. Ponari jadi buah bibir setelah sebagian orang yakin bocah Jombang itu memiliki batu ajaib yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Khalayak ingin mengetahui perkembangan dukun kecil yang ternyata bisa sakit tersebut.

Mat Bloger ikut-ikutan arus kebingungan khalayak dan terjun ke dalam pusaran kontroversi dua isu besar itu. Sebagai blogger sok tahu, dia merasa wajib tahu perihal puyer dan Ponari yang memicu geger. Dia sibuk bertanya ke kiri dan kanan, membongkar koran dan majalah, serta tekun mengikuti setiap berita di televisi yang membahas dua kasus tersebut. Saya sampai geli sendiri melihat polahnya yang tak keruan itu.

“Jadi kita masih boleh mengkonsumsi puyer nggak, Mas? Kita bakal keracunan nggak? Terus si Ponari itu apa sakti betul, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Nggak tahu, Mat. Saya bukan dokter. Saya juga belum pernah merasakan kehebatan batu ajaib Ponari itu,” jawab saya sekenanya.

“Tapi sampean blogger kan, Mas? Jadi blogger itu harus tahu segalanya dong.”

“Gundulmu!” saya mengumpat. “Blogger itu bukan orang yang tahu semua persoalan, Mat. Dalam urusan ini, saya sama bloonnya dengan sampean.”

“Wah, payah! Percuma sampean jadi blogger kalau nggak tahu apa-apa, Mas.”

“Lo, sampean kok malah menyebut saya payah. Kalau sampean ingin tahu soal puyer dan Ponari, ya, tanya ahlinya saja. Jangan tanya saya.”

“Kalau sampean nggak tahu apa-apa, terus ngapain ngeblog? Apa gunanya jadi blogger, Mas?”

“Begini, Mat. Sebagai blogger, kita memang nggak perlu tahu semua hal. Tapi sampean tetap bisa berpartisipasi menjelaskan duduk perkara puyer dan Ponari itu, Mat.”

“Bagaimana caranya, Mas? Saya bukan dokter, bukan apoteker. Saya cuma blogger abal-abal. La wong kalau sakit, saya, ya, berobat ke dokter, dan bukan minta tolong dukun cilik Ponari yang menghebohkan itu, Mas.”

“Sampean bisa meniru kerja para jurnalis. Jurnalis bukan orang yang selalu benar dan tahu segalanya. Pekerjaan para jurnalis itu mencari, mengumpulkan, lalu menyebarkan informasi ke publik. Kadang-kadang, mereka memang jadi tempat bertanya. Tapi jika tak bisa menjawab, mereka minimal bisa memandu orang untuk mendapat jawaban. Misalnya dengan menunjukkan orang atau lembaga yang tepat untuk ditanya.

Begitu juga dengan para blogger seperti sampean, Mat. Kalau sampean tak mengerti perihal puyer, sampean dapat membantu masyarakat mencari informasi. Caranya, menunjukkan situs-situs kedokteran yang tepercaya. Bisa juga sampean menyediakan mereka tautan alamat blog-blog para dokter. Sekarang kan sudah banyak dokter yang mempunyai blog. Mereka sering menulis masalah-masalah kedokteran dan kesehatan, termasuk kontroversi tentang puyer.

Sebagai blogger abal-abal, sampean nggak usah sok tahu, ikut-ikut menganalisis puyer itu lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya. Sampean nggak memiliki kompetensi dan otoritas. Nanti hasil analisis sampean malah menyesatkan. Pembaca blog sampean bukannya jadi tercerahkan, tapi malah tambah bingung. Seperti halnya para jurnalis, tugas sampean hanya memberikan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan supaya publik mampu mengambil keputusan sendiri. Paham?”

“Siap, Mas!”

Iklan
Kontroversi Puyer dan Ponari

2 pemikiran pada “Kontroversi Puyer dan Ponari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s