Etiskah Ngerumpiin Bekas Kantor

“Bagaimana kalau kita membuat blog yang isinya mencela bekas kantor kita? Etiskah? Apakah melanggar hukum?” tanya Mat Bloger tiba-tiba tatkala saya baru saja membuka koran pagi.

Saya langsung menutup koran dan memalingkan wajah ke arah Mat Bloger. “Ah, ini pasti ada kaitannya dengan blog yang mendadak populer itu ya, Mat?”

Mat Bloger mengangguk sambil nyengir seolah-olah tahu yang saya maksud.

Pekan ini memang ada sebuah blog yang sedang menjadi bahan obrolan para blogger, yaitu TransTV News. Isi blog tersebut menjelek-jelekkan manajemen dan petinggi Trans TV. Pemiliknya diduga kuat bekas karyawan Trans TV yang telah dipecat.

Tampaknya dia membuat blog itu sebagai pelampiasan sakit hati karena merasa telah diperlakukan sewenang-wenang. Belakangan ada kabar polisi telah menahan orang yang diduga sebagai pemilik blog tersebut. Tapi polisi membantah kabar ini.

Bagi saya, blog itu sebuah kasus menarik karena mengingatkan kita pada masalah etika dan hukum di ranah blog. Etiskah kita membuat blog yang mengungkap rahasia atau borok tempat kerja kita? Apakah setelah tak lagi menjadi karyawan, kita lalu bebas mencaci-maki bekas kantor tanpa terjerat hukum?

Konstitusi memang menjamin setiap warga negara Indonesia mengeluarkan pendapat. Setiap warga negara juga dijamin haknya untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Tapi konstitusi juga menyebutkan bahwa dalam menggunakan hak dan kebebasannya itu, setiap orang wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Pembatasan diciptakan untuk memberi pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dengan memperhatikan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum.

Nah, seorang karyawan atau mantan karyawan suatu perusahaan harus menyadari bahwa mempublikasikan isi perut kantor/bekas kantornya melalui blog adalah sama saja menyampaikan informasi kepada publik. Tindakan ini bisa terjerat undang-undang, seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Perdata, Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan, serta Undang-Undang tentang Rahasia Dagang.

Dalam KUHP dan UUITE, misalnya, ada pasal yang mengatur bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dapat dikenai sanksi pidana.

“Wah, berat juga ya, Mas. Lalu bagaimana kalau kita membuat blog untuk mengungkap kasus-kasus, katakanlah korupsi, penyelewengan anggaran, atau tindak pidana lain, di kantor/bekas kantor kita? Bisa-bisa niat baik ini jadi terganjal dong,” kata Mat Bloger.

“Oh, whistle blower, ya? Begini, Mat. Seandainya sampean berniat menjadi whistle blower kasus korupsi di kantor, lebih baik tak lewat blog. Sampean bisa menyampaikan laporan langsung ke penegak hukum, misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sampean juga dapat membeberkannya ke pers. Media massa dan jurnalisnya memiliki kode etik dan aturan yang lebih dapat melindungi dirinya dari tuduhan fitnah atau pencemaran nama baik. Tapi, untuk berjaga-jaga, ajak saksi dan siapkan dokumen-dokumen yang menunjang.”

Kalau ingin mengetahui lebih jauh tentang delik-delik di Internet, silakan sampean berkunjung ke blog Lintasan. Di sana ada pengacara, Bung Ari Gema Juliano, yang siap menampung pertanyaan seputar ranjau-ranjau hukum di ranah blog.

Iklan
Etiskah Ngerumpiin Bekas Kantor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s