Marcella Zalianty? Ah, Basi!

HUJAN tengah menyiram Jakarta ketika Mat Bloger menatap layar komputer dengan paras kuyu. Dahinya mengerut. Sepertinya dia tengah menyulam angan. Mungkin juga dia tengah memikirkan beban hidup yang kian menekuk pinggang. Saya colek punggungnya. Dia tersentak. Kaget.

“Aduh, sampean bikin saya terkejut, Mas,” dia berteriak.

Saya nyengir. “Sedang apa, Mat? Melamun, ya?”

“Oh ndak, Mas. Ini lo, saya sedang membaca hasil survei iseng-iseng kawan saya tentang perilaku orang di Internet. Hasilnya menarik, lo,” jawab Mat Bloger.

“Menurut survei ini, perilaku pengakses telah berubah drastis. Dulu, urut-urutan aktivitas yang dilakukan orang begitu tersambung ke Internet adalah membuka e-mail, membaca situs berita, jejaring sosial (Facebook, Friendster), blog milik sendiri, aplikasi blog (WordPress, Blogger), blog orang lain, forum (Kaskus), aplikasi microblogging (Plurk, Twitter), dan permainan daring (online game).

Sekarang urutannya berubah jadi mengakses e-mail, situs jejaring sosial, aplikasi microblogging, membaca blog milik sendiri, menengok blog orang lain, membuka aplikasi blog, situs berita, forum, dan permainan daring. Pertanyaan yang menggoda saya adalah, benarkah para pengakses Internet tak lagi memprioritaskan berita? Apakah benar mereka sekarang tak menganggap situs-situs berita itu sebagai kebutuhan utama?”

“Mungkin ya, mungkin tidak, Mat. Survei itu belum tentu benar. Tapi, kalau saya melihat kecenderungan teman-teman di sekitar kita, tampaknya memang ada sesuatu yang berubah. Orang tak lagi menjadikan situs berita sebagai santapan pertama. Barangkali karena kebutuhan dan ketertarikan mereka di ranah daring sudah berubah. Definisi berita menurut mereka pun berbeda dari yang dulu.

Yang kini menarik perhatian para peselancar Internet mungkin bukan lagi kabar tentang turunnya harga bensin, kelanjutan nasib Marcella Zalianty yang tersandung kasus penganiayaan, atau perkembangan terakhir hasil pemilihan gubernur Jawa Timur.

Pengarung Internet memang masih membaca, dan membutuhkan, berita-berita lama seperti itu untuk menyesuaikan diri, mengambil keputusan atau tindakan tertentu. Informasi tentang turunnya harga BBM, misalnya, akan membuat orang melonggarkan anggaran pengeluaran sehari-hari. Tapi siapa yang masih peduli nasib Marcella, kecuali keluarga terdekat mereka?

Bagi kaum urban, maniak gadget, dan pecandu berat Internet, yang dimaksud berita adalah informasi tempat kongko baru di Jakarta di milis kuliner; video terbaru di YouTube, foto-foto liburan akhir pekan para kerabat di Flickr, status mutakhir seorang sahabat di Facebook, sapaan hangat kawan-kawan di Plurk, atau gagasan liar tentang penyelesaian krisis moneter di blog idola mereka.

Siapa pembuat semua berita rasa baru itu? Kita semua. Konsumen kini telah berubah menjadi produsen, prosumen. Setiap orang bisa memproduksi berita versi dan seleranya sendiri, baik di situs jejaring sosial, microblogging, maupun blog. Dan, ternyata, berita versi baru ini disukai. Orang menemukan makin banyak alternatif informasi dan bahan bacaan. Jika tak mewaspadai dan mengakomodasi kebutuhan pengakses yang terus berubah, kelak situs-situs berita itu boleh jadi benar-benar akan ditinggalkan pembaca.”

Iklan
Marcella Zalianty? Ah, Basi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s