Nama Asli atau Alias

“Kenapa blogger suka memakai nama alias?” tanya seorang kawan tiba-tiba melalui fasilitas BlackBerry Messenger.

Terus terang saya agak kaget bercampur heran mendapat pertanyaan ini karena yang bertanya itu senior saya di pabrik. Selain itu, dia bukan blogger. Meski dia memiliki account di Facebook, saya tahu dia kurang paham tentang teknologi informasi dan media sosial seperti blog.

“Apakah blogger tak mau menggunakan nama asli agar bebas menghina?” tanya teman saya lagi setelah beberapa detik menunggu dan saya tak segera menjawab.

Saya jadi tergagap. “Eh, anu, itu… ndak selalu begitu, Bos. Memang ada blogger yang lebih suka anonim atau memakai nama alias dan hobinya menghina atau mengacau. Tapi sebagian blogger memilih memakai nick name, anonymous, atau pseudonymous, karena beberapa alasan tertentu,” jawab saya.

“Misalnya?” dia terus mencecar.

Saya panas-dingin dikejar begitu. Mat Bloger, yang ikut membaca dialog kami di layar BlackBerry, langsung terkekeh. “Modyar kowe, Mas, diinterograsi,” kata Mat Bloger.

“Semprul. Kamu ndak usah ikut-ikut, Mat,” saya menghardik sambil memelototkan mata.

Mat Bloger semakin ngakak melihat wajah saya yang merah padam. Setelah meredakan irama jantung yang berdebar kencang, saya menjawab.

“Begini, Bos. Beberapa blogger lebih suka tak memakai nama asli di blognya demi keamanan dan kenyamanan. Ada blogger yang terpaksa menyembunyikan identitas asli karena keselamatannya terancam. Contohnya blogger di negara-negara yang represif seperti di Myanmar. Mereka bersembunyi di balik selimut anonimitas agar tak diciduk junta militer yang berkuasa di sana.

Ada pula blogger yang memilih anonim untuk menutupi rahasia pribadinya. Dia khawatir isi blognya akan membuka aib dirinya atau orang lain. Ada juga blogger yang tak ingin terkenal, lalu menggunakan nama alias….”

“Eh, tapi tak berarti menggunakan nama alias jadi tidak terkenal, atau sebaliknya, memakai nama asli dijamin terkenal lo,” kawan saya menyergah. “Yang membuat seseorang terkenal itu karyanya, bukan namanya.”

“Memang,” jawab saya. “Tapi ada blogger yang tak ingin nama aslinya terkenal. Ia lebih nyaman dengan nick name tanpa kehilangan integritas. Pilihan ini bukan tanpa risiko. Blogger dengan nama alias bisa kehilangan kredibilitas. Tapi jangan khawatir, bila sebuah blog hanya dimaksudkan sebagai buku harian pribadi, untuk apa kredibilitas? Seseorang yang memang hanya ingin mencurahkan perasaan, unek-unek, atau diary pribadi di blog pasti tak mementingkan kredibilitas. Ia mungkin tak peduli apakah blognya dikunjungi orang atau tidak.”

“Masalahnya, banyak orang memakai nama palsu hanya untuk memaki-maki atau menyebarkan kabar buruk dari blognya,” kata kawan saya lagi.

“Ranah blog memang berwarna-warni. Tapi percayalah, pada akhirnya pasti akan terjadi seleksi alam. Seiring dengan berjalannya waktu, hanya blogger yang benar-benar tekun, passionate, dan konsisten yang akan bertahan dan diterima. Blog dan blogger pengacau yang hobinya hit and run seperti itu akan mati dengan sendirinya, atau minimal ditinggalkan pembaca.

“Ah, tapi tetap saja ranah blog itu wilayah yang mengerikan. Aku jadi takut ngeblog,” kata senior saya itu.

“Ho-ho-ho… ya sudah kalau sampean merasa tak nyaman. Blog memang bukan untuk semua orang. Hidup jalan terus tanpa sampean punya blog, bukan?”

Iklan
Nama Asli atau Alias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s