Menangkal Para Penjiplak

Apa yang harus dilakukan bila tulisan kita di blog diambil seutuhnya dan dimuat situs lain? Perlukah kita mengirim somasi atau menggugat?

Begitulah pertanyaan seorang kawan di pabrik yang sedang bergairah ngeblog. Blognya berisi cerita perjalanan jurnalistiknya ke pelbagai pelosok Indonesia. Tulisan-tulisannya yang memikat dan foto-fotonya yang elok ternyata menarik minat sebuah situs pariwisata. Tanpa ba-bi-bu, situs itu tiba-tiba memuat salah satu tulisan kawan saya.

“Memang situs itu mencantumkan nama saya dan tautan ke posting aslinya, Mas. Tapi kenapa dia tak memberi tahu sebelumnya, ya? Apakah kita memang boleh begitu saja mengambil tulisan di blog orang lain?” tanya kawan saya itu.

Mat Bloger, yang ikut mendengarkan keluhan teman saya itu, langsung nyeletuk, “Wah itu sih, namanya kurang ajar. Gugat saja. Kasih dia pelajaran biar kapok.”

Saya tergelak mendengar Mat Bloger mendadak berang begitu. “Halah, sampean kok senangnya main somasi dan gugat seperti konglomerat-konglomerat hitam yang merasa tercemar nama baiknya itu sih, Mat? Menurut saya, ini masalah etika yang berpotensi menjadi urusan perdata maupun pidana.”

“Bagaimana bisa begitu, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Begini, Mat. Karya kita di blog sebenarnya dilindungi oleh Undang-Undang tentang Hak Cipta. Hak cipta ialah hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak karya ciptanya atau memberi izin untuk itu. Yang dimaksud dengan ‘mengumumkan atau memperbanyak’ itu mempertunjukkan kepada khalayak melalui sarana apa pun, termasuk blog. Nah, siapa pun yang mengambil suatu isi blog harus meminta izin terlebih dulu dari pemilik blog. Memang ada pengecualian. Sampean bisa saja tak dianggap melanggar hak cipta jika mengambil isi blog dengan meminta izin, mencantumkan sumber, dan demi kepentingan tertentu.”

“Kepentingan tertentu itu apa, Mas?” tanya kawan saya.

“Misalnya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, karya ilmiah, penulisan kritik atau review suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan si pencipta. Pengambilan karya cipta pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, juga masih diperkenankan untuk keperluan pembelaan di dalam atau di luar pengadilan. Pengecualian juga berlaku untuk pertunjukan atau pementasan yang tak memungut bayaran, asalkan tak merugikan kepentingan pencipta.

Masih banyak contoh lain, tapi terlalu panjang kalau saya sebutkan semua. Tapi, yang penting diperhatikan, meski seseorang atau satu pihak telah diizinkan mengambil isi blog, sebaiknya dia tetap mencantumkan nama pencipta dan tidak memodifikasi karya tersebut, apalagi sampai merusak apresiasi, reputasi, martabat, atau nama baik si pencipta. Inilah yang disebut sebagai penghormatan terhadap hak moral pencipta. Jika pengambil isi blog tak meminta izin pencipta dan menghormati hak moral tersebut, pemilik blog berhak melaporkan ke polisi atau mengajukan gugatan/tuntutan ganti rugi.”

“Oh begitu, ya? Berarti saya bisa menggugat dong, Mas?”

“Boleh saja. Tapi jangan terburu-buru. Lebih baik sampean mengontak pemilik situs itu terlebih dulu. Tanyakan mengapa dia tak meminta izin sampean. Jangan-jangan dia sebetulnya sudah berniat meminta izin, tapi tak tahu ke mana harus menghubungi sampean. Jika semuanya sudah jelas, baru kita tentukan langkah selanjutnya.”

:: Untuk mengetahui lebih lengkap soal hukum dalam kegiatan daring (online), silakan kunjungi blog Lintasan.

Iklan
Menangkal Para Penjiplak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s