Belajar dari Kearifan Khalayak

Ranah blog kembali berderak-derak pekan ini. Ada blog yang memicu kegegeran karena memuat kartun Nabi Muhammad dengan pose dan cerita yang tak senonoh.

Umat Islam tersinggung, dan polisi pun bergerak mengusut pembuatnya. Polisi menilai pengelola blog itu telah melakukan penistaan dan penodaan terhadap agama Islam.

“Yang lebih parah Mas, nama blogger seperti kita ini jadi ikut tercoreng karena insiden ini, Mas,” kata Mat Bloger, kawan saya yang tekun dan terus mengikuti perkembangan kabar itu.

“Orang bisa menganggap kita, para blogger, sebagai kelompok yang nggak bener, Mas. Jangan-jangan orang akan mengira kita sejenis gerombolan pengacau belaka.”

“Begitulah kehidupan di ranah Internet dan blog, Mat. Blog memang bukan wilayah atau benda suci. Ia bisa tercemar oleh bakteri dan kuman pengganggu. Lalu ada kelompok yang tersinggung dan marah.

Tapi, menurut saya, kita sebaiknya lebih arif dan bijaksana menghadapi kasus ini. Tak perlu emosional. Blog bisa berpengaruh sekali. Isi blog yang tersebar bisa menghasut. Pendapat khalayak ramai bisa terbentuk. Dan seseorang atau sekelompok orang dirugikan.

Tapi marilah kita renungkan sejenak. Perlukah kita cemas bila yang dihadapi hanya satu atau dua blog dengan jumlah pengunjung harian beberapa puluh atau ratus orang saja, sementara kita hidup di negeri yang penduduknya, katakanlah, 220 juta?

Mungkin perlu. Tapi itu berarti kita mungkin sudah tak bisa lagi membedakan antara subyektivitas dan obyektivitas. Sebuah tulisan atau komik yang menyakitkan hati belum tentu berarti sesuatu yang mengacau negeri. Demokrasi, konsep yang menjadi landasan ranah blog, memang riuh dan rumit, tapi tak mudah untuk terus ditampik.

Saya malah khawatir, jika kita terlalu berlebihan bereaksi dan merespons blog sontoloyo itu, akibatnya bisa berabe. Blog hosting WordPress bisa-bisa ditutup. Para blogger yang numpang blog di sana pun ikut kecipratan getahnya. Blog mereka tak bisa diakses lagi.”

“Nah, itu dia yang saya cemaskan juga, Mas. Sampean tentu masih ingat kasus film Fitna! yang membuat pemerintah memblokir Youtube dan beberapa situs lain tempo hari. Siapa yang rugi? Kita semua, kan?” kata Mat Bloger.

“Betul. Gara-gara seekor tikus, lumbung terbakar. Terjadi collateral damage. Padahal semestinya tak perlu berlebihan seperti itu.

Saya merasa para blogger juga tak senang dan mengecam tindakan blog yang memuat kartun Nabi Muhammad itu. Para blogger toh bukan komunitas pengacau.

Blogger itu kelompok yang melihat blog sebagai alat — yang terkadang dilupakan — untuk memperbaiki kualitas dan mengembangkan pilihan-pilihan baru dalam bacaan.

Saya dengar mereka bahkan sudah melaporkan blog itu ke pemilik WordPress. Menurut saya, ini langkah yang bagus. Di ranah blog, ada yang namanya kearifan khalayak. Kearifan khalayak inilah yang menjadi penjaga nilai-nilai dan etika kehidupan di ranah blog. Kalau ada yang menyeleweng, khalayak bereaksi.”

“Terus blog kampret itu enaknya diapain, Mas? Apa perlu kita bongkar saja?”

“Nggak usah, Mat. Biarkan saja. Jangan diakses, jangan ditengok. Anggap saja dia seperti kotoran di jamban rumah. Daripada repot-repot memikirkan blog itu, lebih baik sampean berkemas-kemas menghadapi acara besok?”

“Acara apa, Mas?”

“Besok kan ada acara Pesta Blogger 2008. Sampean datang, kan?”

“Oh iya, Mas. Saya hampir lupa. Sampean mau manggung, ya? Saya datang, deh. Acaranya pasti seru, kan?”

“Iya, pasti. Besok kita bakal senang-senang di Pesta Blogger. Sampai ketemu di sana, ya.”

Iklan
Belajar dari Kearifan Khalayak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s