Pelajaran dari Sebuah Angkringan

Barangsiapa hendak menjadi calon legislator dan ingin memanfaatkan blog sebagai media kampanye, tak perlu jauh-jauh meniru Barack Obama di Amerika Serikat. Lagi pula belum tentu cocok diterapkan di Indonesia. Mungkin lebih baik datang saja ke warung angkringan Wetiga di Jalan Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Memangnya kenapa, Mas?” tanya Mat Bloger kawan saya. “Warung ndeso saja kok dibangga-banggakan. Lagi pula, apa hubungannya antara caleg dan warung angkringan?”

Justru karena kendesoan dan kekerean itulah para calon legislator, terutama yang belum dikenal dan modalnya tak cukup besar untuk berkampanye, layak meniru. Kenapa?

Baiklah, saya akan menceritakan alasannya. Warung Wetiga itu milik Iqbal Prakasa, lelaki lajang asli Solo yang mengadu nasib di Ibu Kota.

Berbekal semangat berbagi dan berteman, juga sedikit pengetahuan tentang Internet dan pemasaran daring, dia memulai usahanya dengan modal pas-pasan. Apa yang membuatnya dia percaya warung itu akan mengubah peruntungannya, dari kere menjadi pengusaha sukses? Internet.

Iqbal alias Gembul tak hanya berjualan makanan dan minuman belaka. Ia juga menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis sehingga para pengunjung bebas mengakses Internet. Ia juga membangun sebuah blog untuk warungnya itu.

Di blognya itu, Gembul mewartakan ke delapan penjuru angin ihwal kemunculan warungnya, siapa saja pelanggan setianya, juga aktivitas yang pernah, sedang, dan akan memeriahkan dagangannya.

Dengan memanfaatkan jaringan pertemanan, dia juga mengundang para blogger. Harapannya tentu saja agar para blogger ikut mengabarkan warung angkringannya di blog masing-masing sehingga memicu efek viral marketing — upaya promosi gratis.

Lalu, di blog Wetiga, Gembul rajin menulis profil tamu-tamu yang bertandang. Pelanggan pun merasa diperhatikan, diistimewakan, dan mendapatkan sentuhan pribadi. Gembul melakukan apa yang disebut “mengelus ego” orang.

Berapakah modal yang dikeluarkan untuk semua itu? Tak sebanyak biaya memasang satu kali penayangan iklan di televisi. Tapi dampak dan efektivitasnya mungkin setara. Warung laris, pengunjung senang, dan popularitas pun datang dengan sendirinya.

Sekarang bayangkan seandainya sampean seorang calon legislator tanpa rekam jejak politik sama sekali. Sampean bukan siapa-siapa, tak pernah jadi pejabat, tokoh publik, pokoknya belum terkenal sama sekali — seperti Gembul dulu.

Sampean juga tak punya banyak uang untuk memasang iklan, mengumpulkan massa, atau mengunjungi para konstituen di pelosok. Bagaimana sampean akan dikenal dan menangguk suara? Apa yang harus sampean lakukan? Bagaimana publik mengetahui sampean ini siapa? Bagaimana sampean akan merangkul suara pemilih?

Anak muda yang terbiasa mengakses Internet mungkin akan segera membuka laptop dan mengetikkan nama sampean di kolom pencari Google. Tapi bagaimana mungkin nama sampean akan muncul kalau tak punya situs pribadi atau blog?

Nama sampean barangkali akan keluar di hasil pencarian jika saja sampean pernah ditulis situs berita daring. Tapi tetap saja para pengelana Internet, orang-orang yang hendak mengetahui lebih jauh sosok sampean, tak mendapatkan cukup informasi yang dibutuhkan.

Blog bisa menolong calon memperkenalkan diri, berkampanye, dan membentuk brand image dengan cara yang jauh lebih murah. Konstituen bisa menengok profil, rekam jejak, juga gagasan yang ditawarkan seorang calon legislator di blog. Dari bloglah, publik sedikit tahu profil sang calon sehingga bisa memutuskan akan memilih atau tidak.

Tapi, memiliki blog saja belum cukup. Sampean harus merawatnya seperti Gembul memperlakukan jurnal daring miliknya. Isilah dengan sesuatu yang interaktif, bukan monolog. Buatlah forum itu ajang diskusi antara sampean dan pengunjung.

Bagaimana kalau sampean tak punya banyak waktu untuk mengelolanya? Sampean bisa meminta tolong kawan atau tim kampanye sampean. Yang penting, blog itu harus mencerminkan sosok sampean.

Bagaimana jika sudah membuat blog tapi tak terpilih juga? Jangan khawatir, masih ada kesempatan. Teruslah merawat blog untuk bekal pemilu berikutnya.

Iklan
Pelajaran dari Sebuah Angkringan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s