Hari Blogger Nasional

SAYA baru saja duduk ketika dari jauh Mat Bloger terlihat berlarian-larian mendekati meja kerja saya. Parasnya yang banjir peluh tampak semringah bagaikan musafir yang menemukan oasis.

“Hoiiii… Mas! Apa kabar? Sampean ke mana saja sih, kok sudah berhari-hari tak ada di kantor?” Mat Bloger langsung memberondong saya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

Saya cengar-cengir. “Biasalah Mat, juragan meminta saya berkeliling lima kota menjual dagangan,” jawab saya asal-asalan.

“Ooo… pantas saya ndak pernah lihat sampean. Padahal ranah blog sedang ramai-ramainya lo, Mas. Sampai pasti ketinggalan banyak berita.”

“Ndak juga, Mat. Saya toh tetap bisa mengikuti kabar teman-teman, termasuk ketika 27 Oktober lalu mereka merayakan Hari Blogger Nasional. Saya kan ndak pernah lepas dari Internet, Mat. Jadi saya beroleh kabar lewat e-mail maupun layanan micro blogging.”

“Oh iya, Mas. Saya juga sempat baca berita tentang perayaan Hari Blogger Nasional itu di koran-koran dan media daring. Saya juga nonton sampean di TV. Seru ya, Mas? Teman-teman sampean bikin acara apa saja?”

“Banyak, Mat. Setidaknya ada empat komunitas blogger di Jakarta, Semarang, Palembang, dan Yogyakarta yang memperingati hari nasional itu, Senin lalu. Mereka berbarengan menggelar pesta kecil-kecilan untuk mengenang momen bersejarah itu. Perayaan tahun ini adalah yang pertama sejak Hari Blogger Nasional dicanangkan pada 2007 oleh Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh. Saya juga merayakannya bersama teman-teman komunitas blogger Anging Mammiri di Makassar.”

“Oh, ya? Banyak yang datang?” tanya Mat Bloger lagi.

“Ada sekitar 20 blogger, Mat. Kami bertemu di sebuah kedai di pinggir pantai Losari ditemani secangkir kopi dan sedikit kudapan. Kami berbincang-bincang ringan, ngobrol soal blog dan perkembangannya sekarang.”

“Bagaimana perkembangan blog dan blogger sekarang, Mas?”

“Seru, Mat. Jumlah blog dan blogger semakin banyak. Ada yang menyebut jumlah blog di Indonesia sudah sekitar 600 ribu, mungkin lebih. Mereka ngeblog di layanan gratisan maupun yang berbayar. Isi blog mereka pun kian variatif. Mereka suka menyebut diri macam-macam. Mereka menulis apa saja, termasuk kritikan. Toh, tidak sepenuhnya (atau tak semuanya) mereka omong kosong.

Ada yang melihat kemasyhuran sebagai tujuan. Tapi belum banyak yang melihat blog sebagai alat–yang terkadang dilupakan–untuk memperbaiki kualitas dan mengembangkan pilihan-pilihan baru dalam bacaan. Ngeblog pada akhirnya adalah kemampuan untuk menjawab sebuah tantangan, bagaimana mengisi halaman kosong. Tidak jauh dari itu. Tidak jauh lebih luhur.

Maka, blogger pun keluar rumah. Dia melihat sudut-sudut kota, mendengar ini dan itu, mencatat, mencari bahan posting. Mungkin juga dia tak ke mana-mana, hanya mendekam di kamar kos seraya berharap induk semang lupa menagih sewa bulanan. Beruntunglah dia jika suatu peristiwa dramatis terjadi. Mungkin sebuah adegan percintaan. Mungkin juga sesuatu yang remeh-temeh. Bagaimana bila tak ada apa pun yang didapat?

Mereka ndak akan kurang akal. Bahkan ketika tak punya apa pun, mereka bisa menulis kata “kosong” atau sekadar secuil titik dan koma di layar. Para blogger memang tak bisa sepenuhnya dikatakan makhluk mulia: selalu menulis yang baik-baik saja. Mereka kadang bergunjing tentang ini dan itu. Sebuah omong kosong tak bermutu dan tiada berfaedah. Sebagai awal, perkembangan ini menggembirakan. Saya percaya kelak mereka akan jauh berkembang jauh lebih maju.”

Iklan
Hari Blogger Nasional

Satu pemikiran pada “Hari Blogger Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s