Karena Blogger Bukan Hacker

MAT Bloger sedang membaca koran ketika saya mendekati meja kerjanya. Parasnya kumal seperti bajunya yang tak pernah disetrika.

“Ada kabar hangat apa, Mat?” tanya saya.

“Banyak Mas, dari dalam atau luar negeri. Sampean mau yang mana?”

“Ndak usah jauh-jauh, yang dari dalam negeri saja.”

“Kalau yang paling menarik dari dalam negeri tentang penayangan data siswa, Mas.”

“Apa menariknya, Mat?”

“Begini, Mas. Departemen Pendidikan Nasional melalui situs Jardiknas mempublikasi nomor induk siswa nasional. Dalam situs tersebut, publik bisa melihat data siswa secara lengkap, dari tempat dan tanggal lahir hingga alamat rumah. Tak kurang dari 36 juta data siswa, dari sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sampai perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri, bisa diakses melalui situs ini.

“Bagus dong, Mat. Itu namanya transparan dan bertanggung jawab,” saya berkomentar.

“Masalahnya, pekan lalu ada orang tua siswa yang mengeluhkan penayangan data itu. Ia khawatir data itu bisa disalahgunakan orang-orang yang hendak berbuat jahat, Mas. Orang tua itu kebetulan punya teman blogger. Ia lalu meminta tolong sang blogger berbuat sesuatu.

Gayung bersambut. Lewat blognya, dia membuat posting berisi semacam peringatan kepada orang tua lain mengenai bahaya data siswa itu. Ia juga meminta rekan-rekannya sesama blogger menyebarkan peringatan itu dan berbuat sesuatu. Ada pula yang segera menyurati Departemen Pendidikan Nasional agar menutup akses itu. Google pun diminta tak mengindeks data itu agar tak bisa ditemukan orang.”

“Berhasil, Mat?”

“Dalam waktu tak sampai dua hari, pengelola situs telah menutup akses itu, Mas. Google bersedia memenuhi permintaan untuk tak mengindeks data. Masalah selesai.”

“Wah, hebat. Berarti para blogger berperan besar membantu mengatasi kasus ini, Mat. Menurut saya, aksi blogger kian nyata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mereka tak lagi sekadar menulis diary, tapi juga inisiatif dan advokasi. Saya jadi teringat pada aksi serupa yang baru dilakukan para blogger internasional pada 15 Oktober.”

“Aksi apa itu, Mas?”

“Namanya Blog Action Day. Ini aksi nirlaba yang menyatakan seluruh blogger di seluruh dunia. Pada hari itu semua blogger membuat posting tentang satu isu yang sama, yakni kemiskinan.”

“Apa tujuan aksi itu, Mas?”

“Membuat diskusi. Jadi pada hari itu para blogger diminta membahas isu kemiskinan. Lewat diskusi itu diharapkan ada beragam solusi mengatasi kemiskinan. Partisipasi blogger juga bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya penggalangan dana. Pada Rabu lalu, sedikitnya 11 ribu situs dan 12 juta blogger ikut berpartisipasi dalam program itu. Sampean bisa melihat perkembangan aksi ini di situs Blog Action Day, Mat. Baca-baca saja bagaimana caranya jika sampean hendak nimbrung di aksi itu.”

“Nanti saya pasti lihat, Mas.”

“Saya yakin aksi semacam ini bakal semakin banyak di masa depan. Bentuknya bisa macam-macam. Semuanya bertujuan berbagi, mendidik, dan memberdayakan masyarakat. Inilah sesungguhnya yang menjadi tugas dan peran blogger bagi masyarakat. Jadi, blogger itu bukan kelompok orang yang hobinya merusak atau mengacak-acak situs, Mat.”

“Ah, nyindir…,” kata Mat Bloger sambil ngakak.

Iklan
Karena Blogger Bukan Hacker

Satu pemikiran pada “Karena Blogger Bukan Hacker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s