Dilema Jurnalisme Warga

Berita tentang arus arus balik pemudik ke Jakarta boleh saja mendominasi halaman-halaman berita media cetak beberapa hari ini. Tapi Mat Bloger, yang sok tahu dan bermata jeli, ternyata justru mendapat berita lain dari luar negeri.

Ia menemukan sebuah berita penting terselip di antara berita-berita tentang kecelakaan lalu lintas di jalur Pantai Utara, antrean pemudik di pelabuhan penyeberangan, dan sejenisnya itu. Apa itu?

“Ini lo Mas, ada berita yang menggegerkan bursa saham Amerika. Sampean harus baca karena sampean kan blogger,” kata Mat Bloger sambil menarik-narik baju baru saya.

“Halah, apa sih, Mat? Berita tentang bangkrutnya perusahaan-perusahaan investasi? Dana talangan US$ 700 miliar yang diteken Presiden George Bush?”

“Bukan Mas. Ini berita di iReport, situs jurnalisme warga milik CNN, yang menyebutkan bahwa Steve Jobs, petinggi Apple itu, dilarikan ke rumah sakit akibat serangan jantung. Berita ini sempat membuat harga saham Apple anjlok 5,4 persen. Tapi kabar itu ternyata tidak benar. Untunglah, pihak Apple buru-buru membantah berita itu dan CNN segera menghapus kabar bohong ini di situs mereka.”

“Oh ya, ya, ya… saya juga sempat membacanya. Itu kejadian pada 3 Oktober, kan? Ramai juga ya, Mat. Saya juga sudah melihat beberapa blog dan situs berita luar negeri yang mengulas kabar bohong itu.”

“Iya, Mas. Saya jadi mikir, bagaimana CNN bisa kecolongan kabar bohong, ya? Memangnya warga biasa, juga blogger, itu tak bisa diandalkan sebagai jurnalis seperti halnya wartawan media tradisional? Seandainya ya, untuk apa media-media daring menyediakan ruang bagi jurnalisme publik? Bukankah itu sia-sia belaka, Mas? Salah-salah, media yang bersangkutan malah rusak citra dan kredibilitasnya hanya gara-gara kabar bohong seperti yang dialami CNN itu, Mas.”

“Menurut saya begini, Mat. CNN mungkin tak sepenuhnya salah. Toh, iReport sudah mencantumkan disclaimer bahwa berita-beritanya tak disunting dan disaring. Artinya, ia sudah memperingatkan pembaca agar tak menelan mentah-mentah setiap kabar yang ditayangkan.

Apakah warga pewarta dan para blogger bisa dipercaya atau tidak, nah itu soal lain. Menurut saya, diperlukan kearifan khalayak (wisdom of crowd) untuk membaca laporan warga pewarta. Jangankan warga pewarta, jurnalis profesional saja masih banyak yang belum mematuhi kode etik jurnalistik dan memegang prosedur standar jurnalisme. Itu sebabnya, khalayak perlu memverifikasi lebih dulu setiap berita, minimal mencari pembandingnya dari sumber lain.”

“Kalau kredibilitasnya diragukan begitu, lalu untuk apa kita mendukung jurnalisme warga? Apakah tidak lebih baik jika warga tak perlu jadi pelapor saja, Mas?” tanya Mat Bloger lagi.

“Ho-ho-ho… kesimpulan sampean jangan meloncat begitu dong, Mat. Dengan segala kekurangannya, jurnalisme warga itu sebuah alternatif baru di antara dominasi dan hegemoni berita-berita buatan pers tradisional. Warga juga bisa menjadi pelapor yang baik ketika jurnalis profesional tak bisa meliput.

Sampean mungkin masih ingat bagaimana peran warga pewarta yang melaporkan penyerbuan para biksu Myanmar oleh junta militer yang represif dan memblokir arus berita resmi. Berkat laporan warga, mata dunia jadi terbuka dan mengulurkan bantuan. Saya bisa salah, tapi setidaknya kita sudah membuka diskusi, Mat. Biarkan orang lain menilai.”

Iklan
Dilema Jurnalisme Warga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s