Passion and Soul

Mat Bloger mengernyitkan jidat di depan layar komputer. Siang itu, parasnya menyiratkan ia tengah berpikir keras. Tumben, pikir saya dalam hati. Tak biasanya ia serius di depan monitor. Pasti ada sesuatu. Pelan-pelan saya menghampiri mejanya, lalu mencolek punggungnya.

“Serius amat, Mat. Baca apa sih? Cerita porno ya?” tanya saya.

“Hush, sembarangan. Siang-siang begini dilarang melihat hal-hal yang bisa bikin batal puasa, Mas,” kata Mat Bloger. “Ini lo, Mas. Saya sedang mengintip blog para politikus, baca-baca isi kepala mereka lewat blog.”

“Punya siapa, Mat?”

“Ah, si Mas. Nggak enak dong kalau saya sebut namanya. Pokoknya ada beberapa, sampean pasti juga sudah tahu.”

“Kenapa sampean tiba-tiba tertarik menyusuri blog mereka?”

“Soalnya mulai banyak politikus, calon legislator yang membuat blog. Mungkin karena 2009 sudah dekat, Mas.”

“Lalu apa kesan sampean terhadap blog mereka?”

“Kalau saya perhatikan, blog para politikus itu kurang menarik. Wajah blog mereka rata-rata nggak dekat dengan selera anak muda. Padahal anak muda adalah pasar dan sasaran mereka.

Tulisan-tulisan mereka tak ada bedanya dengan makalah-makalah seminar atau khotbah di masjid. Saya curiga jangan-jangan tulisan itu sekadar formalitas. Pokoknya, asal blognya ada isinya. Soal kualitas nomor sekian. Sampean pasti juga merasa begitu kan, Mas?”

Saya tersenyum. “Ya, maklumlah, Mat. Namanya juga politikus. Tentu saja mereka hanya piawai soal politik dan belum tentu jago urusan tulis-menulis. Kemungkinan besar blog mereka pun dibuat oleh tim kampanye mereka. Artinya, mereka itu bukan blogger sejati seperti sampean Mat, yang biasa menulis dari soal ikan asin sampai ulasan film Laskar Pelangi.

Mereka bukan blogger yang penuh gairah seperti sampean yang, selain membuat posting, rajin menjalin relasi sosial, meninggalkan jejak komentar di blog teman-teman, serta bergaul di dunia nyata. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai blogger sementara, orang yang ngeblog untuk sementara waktu saja. Nanti, kalau tujuan mereka sebagai politikus sudah tercapai, pasti mereka tak akan ngeblog lagi. Percaya deh, Mat.

Tapi itu sah-sah saja kok, Mat. Mereka boleh membuat blog, mengisinya dengan apa saja, untuk tujuan apa pun. Siapa yang melarang? Seandainya para blogger seperti sampean lantas jadi heran atau malah mencibir, ya, itu urusan sampean dan mereka, bukan urusan saya.”

“La, kok gitu, Mas?”

“Sebab, menurut saya, mereka itu ngeblog tanpa passion and soul, Mat.”

“Halah. Istilahmu, Mas….”

“Begini, Mat. Motif para politikus untuk ngeblog tentu berlainan dengan sampean. Para politikus itu hanya memanfaatkan gelombang pasang blog yang tengah populer. Lalu mereka ikut-ikutan tren. Mereka sekadar memanfaatkan blog sebagai media kampanye.

Mereka sesungguhnya tak pernah benar-benar ikut menyelam, menghirup, merasakan setiap denyut gairah yang bergemuruh di ranah blog. Sedangkan sampean ngeblog untuk berbagi, mengkritik, bertukar informasi dan pengetahuan, melontarkan ide dan pendapat, dan sebagainya.

Sampean ngeblog dengan penuh hasrat dan jiwa. Hasilnya tentu sangat berbeda. Para politikus ngeblog untuk mensosialisasi program mereka, meraih simpati, dan, ujung-ujungnya, supaya terpilih sebagai pejabat atau legislator. Nah, seandainya tujuan itu tercapai, apakah sampean yakin mereka akan terus ngeblog?”

Mat Bloger diam saja dan tak menjawab pertanyaan saya.

Iklan
Passion and Soul

2 pemikiran pada “Passion and Soul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s