Ranjau-ranjau Ranah Digital

PUASA membuat Mat Bloger seperti layang-layang ditinggal angin. Badannya lunglai. Wajahnya lesi. Sepanjang hari kegiatannya begitu-begitu melulu. Kalau tak tidur di kursi kerja, ya, menonton televisi seharian, atau membaca koran hingga azan magrib berkumandang. Begitu pula siang itu, ketika saya kebetulan lewat di depannya. Ia tengah tekun membaca lembaran sebuah koran lokal.

“Ada berita apa, Mat? Ada yang seru?” tanya saya mencoba berbasa-basi.

“Ini, Mas, soal artis Dian Sastro,” jawab Mat Bloger.

“Kenapa? Cerai?”

“Hush, ngawur. Dian belum menikah, Mas. Ini loh, Dian katanya baru saja ditegur oleh World Hindu Youth Organization (WHYO).”

“Loh, kenapa?”

“Karena ada tulisan di blog Dian yang menyebut bahwa Bima tidak pernah menyembah siapa pun, termasuk para dewa. Padahal, menurut organisasi itu, dalam kitab suci disebutkan bahwa Panca Pandawa, termasuk Bima, adalah seorang vaisnava atau pemuja Dewa Wisnu yang taat. Mereka lalu menuntut Dian mengganti kalimat yang dianggap menyesatkan itu.”

“Oh, ya? Apa benar Dian menulis begitu di blognya?” tanya saya tak percaya.

Karena penasaran, saya dan Mat Bloger pun langsung mengklik blog Dian Sastro. Di sana kami menemukan posting berjudul Drupadi Pers Release.

Dian menyebutkan posting tersebut dikutip dari siaran pers yang dibagikan pada acara konferensi pers peluncuran film Drupadi pada 21 Agustus 2008. Dian adalah produser dan pemain Drupadi.

Dalam siaran pers itu ada penjelasan tentang karakter-karakter utama dalam film, di antaranya Bima. Di situ disebutkan, “Bhima (Ario Bayu). Putra dari Dewi Kunti dengan Betara Bayu yang bertubuh besar dan kekar, nyaris menyerupai raksasa. Ia sangat sakti, jujur, setia, namun juga garang dan pemarah. Bhima tidak pernah menyembah siapa pun, termasuk terhadap dewa.”

“Oalah, ini dia kalimat yang digugat oleh WHYO itu, Mas,” kata Mat Bloger. “Kok aneh ya, Mas. Ini kan siaran pers yang dimuat di blog Dian. Kenapa lembaga itu menggugat Dian, seolah-olah dia yang harus bertanggung jawab? Kenapa bukan si pembuat siaran pers yang diminta mengganti kalimat itu, Mas?”

“Dian adalah pemilik blog itu, Mat. Jadi dialah yang dianggap bertanggung jawab atas segala isinya,” jawab saya. “Inilah yang disebut dengan ranjau-ranjau Internet. Seperti halnya dunia nyata, dunia maya merupakan wilayah yang berpotensi menyulut sengketa hukum, gugat-menggugat. Begitu juga aktivitas ngeblog. Semua isi blog ada kemungkinan menyinggung perasaan orang lain, melukai keyakinan umat lain, melecehkan simbol agama, dan sebagainya. Blog berpotensi melanggar hak privat, bahkan hak atas kekayaan intelektual.”

“Waduh, mengerikan juga ya, Mas?”

“Nggak semengerikan yang sampean bayangkan, Mat. Sampean ndak perlu takut dan khawatir. Yang penting sampean mengetahui apa saja ranjau-ranjaunya dan bagaimana menghindarinya. Dengan mengenal pagar dan batas, koridor hukum, kita justru dapat ngeblog dengan lebih nyaman.”

“Sudah ada blog yang membahas soal itu, Mas?”

“Ada. Namanya Lintasan. Ini blog obrolan seputar hukum daring. Blog ini diasuh oleh Ari Juliano alias Bung Ajo, blogger dan kebetulan pengacara. Di blog tersebut, sampean bisa mengikuti diskusi dan boleh bertanya apa saja menyangkut ranjau-ranjau hukum daring kepadanya.”

“Wah, bagus itu, Mas. Saya langsung ke TKP, deh,” kata Mat Bloger.

Iklan
Ranjau-ranjau Ranah Digital

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s