Ngeblog Demi Masyarakat

Sumur yang tak pernah kering pertanyaan. Begitulah julukan yang saya berikan kepada kawan saya, Mat Bloger.

Julukan itu saya sematkan padanya karena setiap kali bertemu, selalu ada saja pertanyaan yang dia ajukan menyangkut blog dan pernak-perniknya.

Seperti di siang yang terik itu, mendadak Mat Bloger memberikan “seember” pertanyaan yang lumayan berat.

“Siapa sebenarnya blogger itu, Mas? Apakah mereka sekelompok orang yang berguna dan memiliki peran tertentu dalam masyarakat? Apakah mereka memiliki peran sosial? Jangan-jangan mereka itu tak lebih dari sekumpulan orang yang tak peduli pada lingkungan,” kata Mat Bloger.

Saya berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Mat Bloger yang menghambur seperti rentetan peluru senapan mitraliur itu.

“Tentu saja, Mat,” jawab saya. “Seperti halnya pekerjaan atau profesi lainnya, blogger itu sangat berguna dan memiliki peran penting bagi masyarakat.”

“Oh ya? Misalnya apa, Mas?” Mat Bloger bertanya lagi.

“Begini, Mat. Dulu, ketika Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh membuka Pesta Blogger 2007, dia mengutarakan keinginannya mendorong komunitas blogger menjadi komunitas baru, kelompok masyarakat yang berfungsi memberikan pendidikan, pemberdayaan, dan pencerahan kepada masyarakat.

Saya kira para blogger seperti sampean ini berpeluang memenuhi keinginan Pak Nuh. Dan, itu benar-benar sudah terjadi. Saya bahkan melihat banyak blogger, yang berprofesi sebagai guru ataupun dosen, yang menulis materi-materi pendidikan.

Sampean bisa menelusuri rumah-rumah daring mereka lewat Google. Banyak pula blogger yang menulis hal-hal yang menginspirasi orang lain. Di ranah blog bertebaran tulisan-tulisan yang mencerahkan. Ada yang menulis tentang motivasi, puisi, tutorial, petunjuk know-how, dan sebagainya.”

“Apakah sudah ada blogger yang memberdayakan?” Mat Bloger memotong.

“Banyak, Mat,” jawab saya.

Saya lalu mengisahkan tentang program Bloggers for Bangsari yang digagas oleh komunitas blogger Bundaran Hotel Indonesia atawa BHI tahun lalu. Program ini bertujuan membantu anak-anak sekolah Madrasah Tsanawiyah Salafiyah di Bangsari, Kecamatan Bantarsari, Cilacap, Jawa Tengah, dengan cara meminjamkan modal berupa induk kambing betina.

Satu anak diberi pinjaman dua induk. Jika kambing yang dipinjamkan sudah menghasilkan anak, mereka boleh menjualnya untuk keperluan sekolah. Bila hasil perkembangbiakannya sudah cukup untuk menghasilkan keturunan lagi, induk kambingnya itu akan ditarik dan diberikan kepada anak lain. Begitu seterusnya hingga induk tersebut tak produktif.

Ada juga komunitas blogger Cah Andong di Yogyakarta. Ketika lindu mengguncang kawasan itu pada 27 Mei 2006, anggota Cah Andong aktif menjadi sukarelawan selama berminggu-minggu. Mereka menggalang bantuan, menyalurkannya, dan ikut merenovasi rumah-rumah yang lantak.

Mulai pekan ini, komunitas BHI juga menggelar program yang diberi nama Gerakan 1.000 Buku . Lewat gerakan ini, para blogger mengumpulkan buku untuk disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Sampean pun bisa ikut berpartisipasi dalam gerakan itu, Mat. Kunjungi saja blog mereka dan baca bagaimana cara membantu mereka. Dengan demikian, sampean telah menjadi seorang blogger yang memberdayakan masyarakat, sekecil apa pun peran itu, Mat.”

“Oke, Mas. Saya segera meluncur ke TKP.”

Iklan
Ngeblog Demi Masyarakat

4 pemikiran pada “Ngeblog Demi Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s