Membuat Blog Komunitas

Mat Bloger tampaknya sedang girang hati. Parasnya berseri-seri sepanjang hari. “Baru terima gaji?” tanya saya.

“Ah, nggak, Mas.” jawabnya. “Saya senang karena mulai sekarang bisa ngeblog terus di rumah sepanjang hari, sesuka hati.”

“Lho, memangnya dulu nggak bisa, Mat?”

“Bisa sih, bisa, Mas. Tapi sekarang lain.”

“Apa bedanya?”

“Begini, Mas. Mulai minggu lalu, kompleks perumahan saya dipasangi jaringan kabel serat optik dari sebuah provider Internet. Perusahaan itu juga menawarkan layanannya ke semua warga. Tarifnya terjangkau lho, Mas. Unlimited pula. Kecepatannya wus-wus-wus. Saya dan tetangga di kiri dan kanan langsung berlangganan. Jadi, mulai sekarang saya bebas meluncur di ranah maya tanpa harus ke warnet atau memakai koneksi dial-up. Ngeblog? Keciiiil,” kata Mat Bloger dengan wajah semringah.

“Halah, ketinggalan zaman, Mat. Kompleks saya sudah beberapa bulan yang lalu dilayani provider itu,” jawab saya setengah meledek.

“Biar lambat, yang penting pasang, Mas, he-he-he…”

“Tapi, sebenarnya, untuk apa jaringan Internet itu buat warga perumahan sampean, Mat? Apa hanya untuk buka-buka situs porno?”

“Hi-hi-hi…,” Mat Bloger terkikik geli sendiri. “Nggak tahu, Mas. Itu urusan tetangga saya. Saya nggak peduli dan nggak mau tahu mereka memakai Internet untuk apa saja.”

“Wah, padahal ini kesempatan bagus buat sampean lho, Mat. Mumpung akses Internet di daerah sampean kian mudah dan murah, dan para tetangga sudah berlangganan, ajak saja mereka untuk membuat blog komunitas. Pasti seru.”

“Halah, apa lagi itu, Mas? Sampean ini sedikit-sedikit blog. Memangnya nggak ada ide lain?”
“Bukan begitu, Mat. Saya usul soal blog karena media sosial ini berpotensi mengikatkan kembali jaringan sosial warga perumahan yang mulai renggang. Kita tahu, kehidupan warga, terutama di kota-kota besar, juga kawasan elite seperti kompleks sampean itu, sangat individualistis. Para penghuninya sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing. Mereka sangat jarang bertemu, berkumpul, dan menjalankan aktivitas sosial bersama-sama. Sampean pasti lebih sering bertemu dan bekerja dengan rekan di kantor. Bertemu dengan tetangga paling sebulan sekali kalau ada undangan. Sampean mungkin bahkan tak mengenal tetangga di ujung jalan.”

“Oh iya, Mas. Saya paling banter, ya, berpapasan dengan tetangga di pagi hari waktu berangkat kerja.”

“Nah, blog itu seperti papan pengumuman atau majalah dinding di kantor kelurahan yang dipindah ke ranah maya. Blog akan menjadi sarana komunikasi warga yang ampuh. Pak RT atau Bu RW yang hendak mengumumkan, misalnya, jadwal ronda dan kerja bakti dapat memasangnya di blog. Di saat lain, ketika warga bingung memutuskan apakah hendak membangun taman bermain anak atau lapangan futsal, sampean bisa membuat jajak pendapat di blog. Lalu warga diminta memberikan suara secara daring (online). Kelebihan blog itu bisa diakses dari mana saja selama ada koneksi ke Internet. Tetangga sampean tak perlu di rumah untuk membukanya, tapi juga bisa melihatnya dari kantor atau kafe. Kan seru tuh, Mat.”

“Wah, iya, ya. Apa lagi manfaatnya, Mas?”

“Banyak, Mat. Tetangga yang mau menyunatkan anaknya dapat memakai blog untuk mengundang tamu. Lebih cepat dan murah. Pak RT bisa mendata warganya lewat blog. Warga dapat berdiskusi tentang masalah sampah di kompleksnya dan sebagainya,” jawab saya mengakhiri pembicaraan.

“Oke, Mas. Saya akan bikin blog komunitas dan mengajak tetangga-tetangga, deh. Terima kasih sarannya, Mas.”

“Sama-sama.”

Iklan
Membuat Blog Komunitas

5 pemikiran pada “Membuat Blog Komunitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s