Demam Plurk

Saya sedang menatap layar notebook ketika Mat Bloger mendekat dan langsung ikut melihat-lihat. Matanya liar seperti kucing lapar. “Lagi ngapain, Mas?” tanya Mat Bloger tiba-tiba.

“Kerja dong,” jawab saya kurang senang.

“Kerja, kok, sambil senyam-senyum? Chatting, ya?” tanya Mat penuh rasa curiga.

“Ah, chatting sih sudah nggak musim, Mat. Sekarang zaman Plurk.”

“Plurk? Makanan apa itu, Mas?” tanya dia lagi.

“Hush, ngawur! Plurk itu bukan makanan, tapi layanan micro blogging baru.”

“Micro blogging? Halah, apa lagi itu, Mas?”

“Oke. Saya jawab satu per satu ya. Begini, Plurk itu layanan micro blogging atawa sebut saja blog mini kata. Diperkenalkan Mei lalu, tren layanan ini langsung menarik perhatian maniak blog di seluruh dunia. Para blogger di Indonesia juga tengah kecanduan layanan ini.

Blog mini kata khusus untuk menampung posting berupa teks yang singkat, ringkas, dan padat, biasanya kurang dari 200 karakter. Kita bisa mengirim teks atau tautan (link) ke micro blog lewat beberapa cara: mengetikkan langsung di blog, instant messaging seperti Yahoo! Messenger, atau e-mail. Setelah ditayangkan, hasilnya dapat dilihat oleh umum atau kelompok tertentu yang anggotanya kita pilih sendiri, misalnya teman-teman dan keluarga dekat saja.

“Oh, itu seperti Twitter dan Jaiku ya, Mas?”

“Nah, betul.”

“Saya sudah pernah mendengar layanan seperti itu, tapi belum pernah mencobanya. Saya penasaran, kalau di layanan micro blogging itu kita cuma bisa menulis pesan singkat, apa asyiknya? Kita tak bisa menuangkan pikiran kita secara lengkap, kan? Apa pula bedanya dengan SMS?”

“Blog mini kata memang tak dimaksudkan seperti halnya blog yang dititipkan di Blogspot atau WordPress itu. Ia hanya menampung kegairahan seseorang untuk berbagi perasaan, status, laporan, atau informasi singkat dengan para pengguna Internet di delapan penjuru angin. Kita, misalnya, bisa menulis status sampean sekarang, katakanlah, sedang makan, menulis, bekerja, mereparasi mobil, potong rambut, dan sebagainya, sehingga semua kawan yang ada dalam jaringan pertemanan kita mengetahuinya. Kita juga bisa melaporkan keadaan Jalan Sudirman, Jakarta, apakah lancar, macet, atau padat merayap. Tuliskan saja secara singkat, terus di-posting. Dalam sekejap, posting itu langsung bisa dilihat siapa saja, di mana pun mereka berada, lewat jaringan Internet. Kalau SMS, kan, cuma bisa dibaca orang yang kita kirimi saja.”

“Ah, kok seperti orang kurang kerjaan saja, sedikit-sedikit posting, lapor kita sedang ngapain saja,” sergah Mat.

“Oh, fungsinya bukan cuma itu, Mat. Jangan salah, micro blogging yang termasuk media sosial ini juga bisa digunakan untuk keperluan lain. Di Amerika, misalnya, layanan blog mini kata dipakai sebagai ajang debat presidensial antara Barack Obama dan John McCain.

“Ah, yang bener, Mas?” tanya Mat Bloger tak percaya.

“Bener, Mat. Debat melalui layanan Twitter itu difasilitasi oleh sebuah lembaga bernama Personal Democracy Forum, dengan moderator blogger kondang dari majalah Time, Ana Marie Cox. Kita bisa mengikuti jalannya perdebatan itu secara langsung di situs di Summize.”

“Wah, hebat benar ya, Mas. Saya juga mau nge-Plurk, ah.”

“Silakan, tapi jangan sampai kecanduan, ya.”

“Siap …”

Iklan
Demam Plurk

Satu pemikiran pada “Demam Plurk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s