Media Sosial

Mat Bloger sedang keranjingan Obama. Ke mana-mana dia memamerkan pin bertulisan “vote Obama” yang terpasang di dadanya. Layar laptopnya bergambar wajah Obama. Interior mobilnya penuh dengan stiker dan foto Obama dalam pelbagai pose. Di kantor, di warung, di lapangan futsal, Mat selalu memperbincangkan tokoh yang dikaguminya itu.

Tentu saja kita tahu siapa Barack Obama, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat itu. Pekan lalu, Obama mengalahkan Hillary Clinton, pesaingnya dalam konvensi Partai Demokrat. Bukan hanya warga Amerika Serikat yang terjangkit virusnya. Beberapa warga Jakarta, seperti Mat Bloger, ikut-ikutan kena demam Obama yang memang pernah bersekolah di kawasan Menteng.

“Sampean tahu, apa kunci kemenangan Obama ketika melawan Clinton tempo hari, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Nggak, Mat. Saya bukan pengamat politik Amerika. Dugaan saya sih, Obama menang karena dia membawa harapan dan angin perubahan bagi bangsa Amerika. Mungkin juga lantaran faktor lain,” jawab saya asal-asalan.

“Misalnya?” tanya Mat Bloger penasaran.

“Obama menang karena dia memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai alat kampanye sehingga terkenal ke delapan penjuru angin. Sampean bisa melihat bagaimana dia memanfaatkan media sosial di situs pribadinya. Di situs itu, Obama menampilkan profilnya di banyak media daring,” jawab saya sok tahu.

“Sebentar, Mas. Sampean menyebut media sosial? Apa itu, Mas?” tanya Mat Bloger tak sabar.

“Halah, sampean tanya melulu. Media sosial itu artinya kurang-lebih adalah sebuah wadah yang menaungi semua kegiatan yang mengintegrasikan teknologi, interaksi sosial, serta tulisan, gambar, video, dan audio. Interaksi dan informasi ditampilkan dalam sebuah situs dengan konsep saling berbagi cerita dan pengetahuan. Situs-situs berbasis media sosial menggunakan gabungan teknologi yang sama, seperti mesin blog, surat elektronik, voice over Internet protocol atau VoIP, pesan seketika, music sharing, photo sharing, dan sebagainya.”

“Wah, definisi sampean kok membingungkan, Mas. Saya nggak paham.”

“Oke. Sampean pernah melihat forum di Internet seperti Kaskus atau Weblog dan Wiki? Nah, itu beberapa contoh media sosial. Kalau masih belum paham juga, saya kasih nama lagi, Facebook, Friendster, Wikipedia, YouTube, Flickr, Jaiku, atau Twitter. Sampean pasti pernah mendengar atau malah sudah mencoba layanan mereka, kan?”

“Oalah…. kalau situs-situs seperti itu ya tahu dong, Mas. Saya kan juga punya akun di Facebook, untuk mencari teman atau menjalin pertemanan. Itu kan lagi ngetop, Mas.”

“Media sosial memang sedang menunggang gelombang popularitas. Banyak orang, terutama anak muda, yang tergila-gila padanya. Meminjam slogan sebuah stasiun televisi, media sosial itu menjalin persatuan dan kesatuan. Para politikus rupanya melihat potensi media sosial guna merintis jalan politik mereka. Itu sebabnya, kita lihat, mulai banyak politikus yang memakai media sosial sebagai alat kampanye. Mereka membuka akun di Facebook, Friendster, juga membikin blog. Mereka ingin memanfaatkannya untuk memperkenalkan diri, menarik simpati, juga dukungan dari kalangan anak muda, pengguna terbanyak media sosial.”

“Oh, pantas belakangan ini saya sering dikontak para politikus lokal. Mereka minta diajari bikin blog, Mas.”

“Wah, itu namanya rejeki, Mat. Makan-makan dong…”

“Ha-ha-ha-ha…” Mat Bloger ngakak.

Iklan
Media Sosial

Satu pemikiran pada “Media Sosial

  1. Wah…, betul sekali tuh. media sosial di internet memang terbilang sukses digunakan untuk keperluan promo. Tapi kita tentu juga mesti tahu strategi permainannya. Gimana bang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s