Sinterklas van Serang

Mat Bloger menonton televisi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali mulutnya berdecak. Parasnya terlihat kesal.

“Serius amat. Nonton apa sih, Mat?” tanya saya.

“Ini lo, Mas. Ada sinterklas di Serang.”

“Heh? Sinterklas? Memangnya Natal sudah tiba, Mat?”

“Belum, Mas. Tapi, di Serang ada orang yang mirip sinterklas, bagi-bagi duit dari pesawat Cessna. Lantas penduduk berlarian dan berebutan di lapangan. Kasihan sekali, deh. Hati saya kok malah jadi miris melihat mereka. Itu tadi ada ibu-ibu yang sampai lari ngos-ngosan dan jatuh segala. Kok, ya ada orang yang tega-teganya membuat rakyat kecil jadi seperti mainan, disuruh terbirit-birit mengejar uang. Kalau cuma mau bagi-bagi duit, apa nggak ada cara lain yang lebih manusiawi ya, Mas?”

Sinterklas di Serang? Bagi duit dari langit? Aha, saya tahu yang dimaksud oleh Mat Bloger, kawan saya yang hatinya mudah tersentuh itu. Ahad kemarin, media massa memang memberitakan aksi seorang pemasar yang mencoba taktik pemasaran baru sekaligus mempromosikan bukunya dengan menyebarkan uang senilai Rp 100 juta dalam pecahan Rp 1.000, Rp 5.000, dan Rp 10 ribu. Eksperimen pemasaran itu dilakukan, katanya, untuk menggambarkan betapa banyak strategi pemasaran yang tak efektif dan menghamburkan dana belaka, seperti membuang uang dari angkasa.

“Sebagai kiat pemasaran, tentu saja saya menghargai upaya pemasar itu, Mas. Tapi, saya kok merasa tingkahnya kurang etis, ya. Buat saya, Mas, aksi tebar uang dari angkasa tak lebih dari pameran kepongahan, pelecehan terhadap martabat manusia.”

“Maksudmu bagaimana, Mat?”

“Saya menganggap si pemasar itu, sadar atau tidak, membuat manusia seperti barang mainan, Mas. Dia menjadikan rakyat miskin sebagai bahan eksperimen yang bisa disuruh lari ke sana-kemari dengan iming-iming uang. Kenapa dia tak menyumbangkan saja duitnya kepada orang miskin yang hidupnya makin sengsara gara-gara harga barang dan BBM naik?”

“Oh, itu mungkin karena dia hendak menguji teori pemasarannya, bukan hendak menyumbang, Mat. Niatnya baik, tapi caranya kurang tepat,” jawab saya.

“Iya, egois. Sekarang begini, Mas. Kalau sampean juga dititipi dana untuk disumbangkan, apa yang sampean lakukan?”

“Saya akan membuat semacam program pay it forward di kalangan para blogger.”

“Caranya?”

“Begini. Saya akan meminta para blogger menulis di blog masing-masing tentang kiat mengatasi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, inovasi energi, dan sebagainya. Untuk setiap tulisan yang diterbitkan, saya akan menyumbangkan Rp 100 ribu kepada satu keluarga miskin. Makin banyak blogger yang membuat posting, semakin banyak pula jumlah uang yang didonasikan.”

“Wah, dasar blogger. Sedikit-sedikit blog, blogger, posting, ha-ha-ha…”

“Lo, sebagai blogger kita memang hanya bisa menulis dan menyebarkan gagasan, Mat. Blogger itu bukan sinterklas, konglomerat, atau Paman Gober. Tapi, bukan berarti blogger tak bisa membantu mengatasi masalah sosial, seperti kemiskinan. Saya yakin para blogger memiliki segudang gagasan. Penggalangan dana lewat tulisan itu hanya contoh. Pasti masih banyak cara lain untuk membantu orang miskin lewat blog.”

“Wah, boleh juga tuh idenya, Mas. Jadi kapan kita mulai?”

“Ya nanti, kalau sudah ada orang yang rela dan sudi menyumbang 100-200 juta atau semiliar, he-he-he…”

Iklan
Sinterklas van Serang

Satu pemikiran pada “Sinterklas van Serang

  1. kayaknya…pemasar itu udah rada-rada pikun kemanusiannya atau mungkin malah udah lama lupa karena melihat isi dunia itu hanya sederetan angkai yang bisa dia akali, kotak-katik, mainkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s