Tur Maya Istana Merdeka

Harga bahan kebutuhan pokok dan tarif angkutan umum melonjak setelah harga bensin naik. Gaji masih seperti bulan-bulan lalu. Apa lagi yang bisa dilakukan buruh berupah pas-pasan, seperti Mat Bloger, kawan saya, di masa sulit seperti sekarang? Karena itu, saya heran ketika tiba-tiba dia menghampiri saya dengan paras berseri-seri seperti baru naik gaji.

“Wah, edyan, Mas, edyan. Seger, Mas. Ayu-ayu,” kata Mat Blogger menggebu-gebu.

“Sebentar-sebentar, apanya yang edan, Mat? Seger? Ayu? Sampean ngomong apa sih?”

“Anu, Mas, anu… Istana, Mas, istana. Setelah bertahun-tahun cuma bisa mimpi, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Istana Merdeka, Mas. Saya ikut rombongan sekolah anak saya berwisata ke tempat kerja Pak Presiden itu. Edyan tenan, bagus betul. Pemandunya cantik-cantik, segar seperti tomat baru dipetik.”

Oalah, ternyata Mat Bloger menceritakan pengalamannya mengantar anaknya melihat-lihat Istana Merdeka yang kembali dibuka untuk umum mulai Sabtu pekan lalu. Dia beruntung memperoleh kesempatan pertama yang diterima langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono bersama para menteri. Sebagai warga biasa yang sejak lama bercita-cita bertemu pemimpinnya, wajar saja Mat Bloger bergembira ketika mimpinya jadi kenyataan.

“Ada foto-fotonya nggak, Mat? Lihat dong.”

“Nah, itu dia masalahnya, Mas. Pengunjung ternyata tak boleh membawa kamera di dalam Istana. Katanya demi keamanan. Kita cuma bisa mengambil gambar di tempat tertentu, dan yang memotret pun harus fotografer Istana.”

“Wah, sayang juga, ya. Seandainya kita boleh memotret dan merekam seluruh ruangan dan segenap isinya, kita bisa membuat blog tur virtual Istana.”

“Tur virtual? Apa itu, Mas?”

“Begini, Mat. Ini blog yang mirip dengan situs White House for Kids (http://www.whitehouse.gov/kids/). Itu lo, rumah maya para Presiden Amerika Serikat yang dirancang dengan konsep edutainment. Blog itu berisi peta, foto-foto, klip video sejarah Istana, serta program-program pendidikan khusus anak-anak, seperti mewarnai. Di blog ini juga ada program tur keliling Istana secara virtual.

Nah, mumpung Istana sudah dibuka untuk umum dan karena kita belum punya situs seperti itu, kita bisa mengambil inisiatif membuatnya dalam bentuk blog. Tapi, kalau dilarang memotret dan merekam video, bagaimana kita mengumpulkan data? Padahal blog semacam itu penting dan bermanfaat bagi anak-anak di Nabire, di Payakumbuh, di Ndiwek, juga desa-desa lain, yang belum punya kesempatan singgah ke Jakarta. Mereka bisa belajar dari jarak jauh mengenai Istana secara imajiner. Di era digital seperti sekarang, jarak dan ruang mestinya bukan masalah lagi karena Internet menjembatani kendala itu.”

“Jadi blogger jangan sampai kehabisan ide, Mas. Kalau tak boleh memotret, ya kita bikin sketsa saja. Setelah itu, kita ubah menjadi animasi atau gambar tiga dimensi, lalu kita unggah ke blog. Banyak, kan, program bantu untuk mengubah sketsa jadi gambar 3D atau animasi, Mas?”

“Sketsa? Wah, boleh juga usul sampean. Masalahnya, siapa yang bisa dan bersedia membuat sketsanya, Mat?”

“Tawarkan saja kepada para blogger teman-teman sampean itu. Pasti ada yang mau.”

“Oh, baiklah.” l

Iklan
Tur Maya Istana Merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s