Sejarah Kerusuhan Mei 1998

Pada sebuah malam yang lembap, saya bertandang ke rumah seorang kawan. Siapa lagi kalau bukan Mat Bloger, teman baik saya yang sedang keranjingan blog. Di ruang tamu rumahnya yang sesak oleh barang-barang, saya lihat ia sedang duduk di depan komputer. Matanya nyaris tak berkedip menatap layar monitor.

“Sibuk, Mat?” tanya saya basa-basi.

“Nggak, Mas. Saya cuma mau mencari berita-berita, tulisan tentang Kerusuhan Mei 1998, Mas,” jawabnya.

“Untuk apa?”

“Iseng-iseng saja, Mas. Saya penasaran, ingin tahu apa yang sebetulnya terjadi waktu itu. Tapi saya tak memperoleh cukup informasi memuaskan. Data hasil penelusuran lewat mesin-mesin pencari sangat minim,” jawab Mat Bloger.

“Sebetulnya sampeyan bisa mengeceknya di ruang arsip daring (online) milik media-media, Mat. Biasanya mereka masih menyimpan berita dan artikel yang sampeyan cari,” saya menyarankan alternatif.

“Sudah, Mas. Tapi, kok, rasanya masih kurang lengkap. Saya, misalnya, ingin tahu apakah ada orang yang punya cerita versinya sendiri tentang apa yang dia lihat dan rasakan ketika itu. Apakah ada orang yang ikut menjarah lalu menuliskan pengalamannya? Apakah ada yang punya kesaksian kronologis terbakarnya sebuah mal karena kebetulan dia lewat di depannya?”

“Wah, kalau sampeyan mau mendapatkan cerita seperti itu, ya susah, Mat. Tulisan-tulisan pribadi seperti itu biasanya ada di blog.

Masalahnya, blog belum populer ketika tragedi itu terjadi. Penyedia layanan blog gratis seperti LiveJournal, Blogspot, dan WordPress pun belum lahir. Informasi kala itu masih didominasi oleh media mainstream, seperti koran, majalah, TV, radio, juga portal berita daring.

Sampeyan tentu masih ingat bagaimana warga Jakarta setiap saat mendengarkan radio untuk memantau apakah penjarahan sudah mendekati wilayahnya, apakah gerombolan massa menuju rumahnya, dan sebagainya.

Pekerja kantoran mengandalkan situs-situs berita untuk mengetahui breaking news yang lebih cepat ketimbang stasiun-stasiun televisi. Orang mendapat rumor yang beredar lewat SMS atau e-mail dan milis-milis.

Tapi media massa itu punya keterbatasan. Wartawannya tak mampu meliput peristiwa yang meluas di wilayah sebesar Jakarta. Arsipnya pun entah berserakan di mana dan tak selalu bisa kita akses lewat Internet secara gratis.”

“Wah, kalau begitu, blog mestinya jadi penting ya, Mas? Seandainya waktu itu blog sudah berkecambah seperti sekarang, saya pasti sudah mendapatkan cerita lebih lengkap. Sayang ya?”

“Iya. Seandainya waktu itu sudah ada blog, sejarah mungkin harus ditulis ulang. Blog media yang sangat personal dan independen, yang mampu menghadirkan informasi dengan warna lain.

Memang belum semua blog memenuhi standar kredibilitas seperti yang sudah dicapai media mainstream. Tapi, bagaimanapun, kehadiran blog akan melengkapi. Dan, karena sifatnya yang awet, kelak orang mungkin akan memanfaatkan tulisan-tulisan di blog sebagai bahan riset sejarah.

Menulis sejarah itu penting, Mat. Sejarah adalah ikhtiar melawan lupa. Karena itu, teruslah ngeblog, Mat. Tulis tentang apa saja, termasuk kejadian sehari-hari yang sampeyan lihat. Bahkan hal-hal yang remeh temeh pun cukup berharga untuk disimpan. Siapa tahu anak-cucu kita nanti mendapat manfaat dari apa yang kita tulis sekarang.”

“Oke, oke, Mas. Mulai sekarang saya akan makin rajin ngeblog.”

>> Diskusi tentang topik ini bisa diikuti di blog Tempo Interaktif.

Iklan
Sejarah Kerusuhan Mei 1998

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s