Kisah Seorang Ibu dan Blog

Syahdan pada sebuah siang yang terik, seorang ibu berjilbab tiba-tiba mendatangi kantor teman saya di kawasan Kebayoran Baru. Usianya sekitar 50 tahun. “Saya ingin belajar ngeblog,” kata ibu itu. “Apakah saya harus membayar?”

Teman saya kaget dan terheran-heran. Rasanya baru sehari teman saya itu memperkenalkan layanan free blog hosting miliknya, Dagdigdug, ke publik. Bagaimana bisa secepat itu seorang ibu yang belum pernah dikenalnya mendadak mengunjunginya? “Bagi saya dan teman-teman, ini sebuah keseriusan yang harus dihormati,” kata teman saya.

Bayangkan, kata teman saya, ibu ini memanfaatkan waktu rehat makan siang dan meninggalkan kantornya, sebuah departemen di Jakarta Pusat. Ia naik bus ke Blok M, kemudian disambung ojek menuju ke markas Dagdigdug hanya untuk belajar membuat blog.

Maka, di sebuah meja kecil, sebuah pemanduan singkat pun berlangsung. Laptop teman saya jadi kelas, teman saya jadi guru, dan ibu itu jadi muridnya. Dalam tempo tak sampai satu jam, pelajaran membuat blog itu pun kelar, dan ibu itu tak perlu membayar sepeser pun.

“Akhirnya anak saya punya blog. Ini memang untuk dia. Saya ingin dia terbiasa menulis untuk mengeluarkan pendapat,” kata ibu itu. Ada kelegaan di wajahnya.

Teman saya terharu mendengar pengakuan ibu itu. Ia tak pernah mengira ada seorang ibu yang begitu menginginkan anaknya belajar berekspresi, melontarkan ide dan gagasan ke seluruh dunia, melalui blog. Ia sampai rela mengarungi kemacetan Jakarta demi membuat blog.

Ibu berjilbab itu hanya satu contoh. Di luar sana, pasti masih banyak ibu-ibu lain yang juga berminat membuat blog, tapi belum tahu caranya dan kepada siapa mesti bertanya. Karena itu, teman saya dengan senang hati berbagi ilmu tanpa memungut bayaran sepeser pun.

Terus terang, saya ikut terharu sekaligus bangga mendengar cerita tersebut. Blog ternyata telah begitu mempesona banyak orang, seperti ibu berjilbab itu. Barangkali ini karena blog memang media alternatif yang membebaskan, mencerdaskan, memberdayakan, dan mencerahkan.

Blog adalah media yang membebaskan karena, misalnya, orang-orang yang punya kemampuan menulis tapi hasil tulisannya tak pernah dimuat di media massa bisa membuat blog sendiri serta menampilkan karya-karyanya. Ia tak bergantung lagi pada satu media.

Blog itu media yang mencerdaskan karena membuat pemilik dan pembacanya saling belajar. Seorang blogger mau tak mau harus belajar menuangkan isi kepalanya dalam bentuk tulisan. Ia mungkin bahkan harus melakukan riset untuk memperkaya tulisannya.

Blog itu media yang memberdayakan lantaran bisa menjadi sarana mencari uang. Seorang blogger dapat menjual kaus, buku, cendera mata, dan sebagainya lewat blog.

Blog itu juga mencerahkan karena isinya mampu memberi pembacanya sesuatu atau ide tertentu. Blog tentang resep masakan, misalnya, akan menginspirasi ibu-ibu yang sedang kebingungan hendak memasak apa hari ini, dan seterusnya.

Untuk memperoleh semua itu, Anda tak perlu merogoh kocek. Anda hanya perlu membuat blog.

>> Diskusi tentang topik ini bisa diikuti di Blog Tempo Interaktif.

Iklan
Kisah Seorang Ibu dan Blog

5 pemikiran pada “Kisah Seorang Ibu dan Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s