Polemik

Belum genap sebulan nge-blog, Yusril Ihza Mahendra telah terlibat polemik panas di blog Indonesia Matters. Polemik bermula dari sebuah posting lama, bertanggal 14 Mei 2007, tentang mantan Menteri-Sekretaris Negara yang sepekan sebelumnya dicopot dari kabinet itu. Adapun isi posting adalah analisis alasan pencopotan Yusril.

Pada mulanya posting itu menuai 18 komentar. Sampai kemudian, pada 15 November lalu, atau hampir enam bulan kemudian, Yusril menemukannya dan langsung berkomentar. Ia bukan mengomentari posting itu, melainkan komentar orang lain di posting itu. Beberapa blogger kemudian balas menyerang Yusril. Dari situlah, polemik berkembang liar, dibumbui oleh baku kata-kata kasar. Hingga tulisan ini dibuat, total ada 59 komentar di sana.

Setelah itu, Yusril menulis di blog-nya sendiri untuk meminta komentar dari pengunjung mengenai polemik itu. Tulisan ini mendapatkan 40 komentar, tapi rata-rata jauh lebih sopan ketimbang yang di Indonesia Matters.

Ini perkembangan yang menarik untuk diikuti. Tak penting siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang penting kedua belah pihak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan argumen masing-masing. Sebab, menurut saya, begitulah aturan main yang sebaiknya ditegakkan dan berlaku di ranah blog. Siapa pun boleh berdebat secara terbuka, seperti halnya para tokoh pergerakan Indonesia tempo doeloe yang kerap berpolemik di media massa. Perbedaan pendapat itu anugerah untuk kehidupan demokrasi.

Saya tak pernah membayangkan debat terbuka seperti ini bakal terjadi seandainya Yusril masih menjadi pejabat tinggi, baik sewaktu menjadi Menteri Kehakiman maupun Menteri-Sekretaris Negara. Pertama, karena belum tentu dia sudi melirik ranah blog. Kedua, saya tak tahu apakah dia masih punya waktu untuk melayani debat terbuka secara tertulis seperti itu.

Saya jadi berandai-andai, seandainya para pejabat publik yang masih duduk di kursinya sekarang ini punya blog juga, lalu ada satu isu kontroversial yang menyangkut mereka, kira-kira apa yang terjadi? Mungkin akan terjadi lebih banyak polemik. Mungkin juga tidak. Tapi, satu hal sudah jelas, publik akan mendapat pengalaman baru.

Jika saja para pejabat negara, juga para anggota DPR, benar-benar mau nge-blog, ranah blog di Indonesia tentu memasuki babak baru, era keterbukaan. Orang ramai akan bisa mengontrol dan menilai kinerja para pejabat. Akibatnya, pejabat publik yang nge-blog pasti akan semakin hati-hati bekerja dan tak bisa bertingkah seenaknya sendiri. Kalau kinerjanya amburadul, apalagi sampai berani korupsi, bisa dibayangkan akibatnya. Blog-nya pasti akan penuh dengan caci maki dan hujatan.

“Eh, eh, eh… tapi sebaiknya para pejabat dan anggota DPR itu jangan disuruh nge-blog, Mas. Soalnya, nanti mereka malah mengajukan anggaran beli laptop baru untuk nge-blog. Yang mahal pula. Nanti rakyat juga yang harus menanggung beban,” kata seorang teman.

Oh iya, betul juga. Jadi sebaiknya bagaimana?

Iklan
Polemik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s