Bila Yusril Ihza Mahendra Nge-Blog

Mantan Menteri-Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra akhirnya ikut tren nge-blog juga. Ia tak mau ketinggalan dari menteri atau mantan menteri lain yang sudah lebih dulu membuat jurnal harian online atau situs web pribadi, seperti Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Asy’ari, dan mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Sarwono Kusumaatmadja.

Terlambat? Begitulah. Seandainya ia nge-blog ketika masih jadi pejabat tinggi, ceritanya tentu bakal lain. Tapi tak perlu khawatir. Dengan nge-blog, Yusril tak perlu lagi merasa dikuyo-kuyo, seperti yang dikeluhkannya kepada saya, serta beranggapan diperlakukan tak adil oleh media massa dan jurnalis. Sekarang dia bisa menyuarakan pendapatnya sendiri melalui blog.

Nge-blog, pada akhirnya, adalah bagaimana membuat posting, menulis secara kontinu dan konsisten. Hingga kolom ini ditulis, blog Yusril itu baru berisi satu posting pengantar. Alangkah baiknya bila mantan penulis teks pidato Presiden Soeharto itu segera membuat posting berikutnya yang bernas tentang pelbagai isu.

Membuat blog itu baru langkah awal. Jalan panjang yang masih harus ditempuh adalah mengisi blog secara rutin. Inilah tantangan yang dihadapi setiap blogger, termasuk Yusril. Nge-blog membutuhkan napas panjang, seperti maraton. Pintar-pintarlah mengatur irama menulis, isu, juga waktu.

Banyak blogger, terutama dari kalangan profesional dan eksekutif puncak, yang kegiatannya sangat padat. Mereka mengaku kesulitan membagi waktu antara pekerjaan sehari-hari dan kegiatan mengisi blog. Waktu menulis sangat kurang. Yusril mestinya tak punya kesulitan itu setelah keluar dari kabinet. Apalagi ia punya modal bagus untuk segera menjadi seleb blog. Ia cukup populer sebagai pejabat ataupun pemimpin partai politik.

Tantangan berikutnya adalah memilih tema tulisan dan cara menuliskannya. Bila Yusril memilih menulis tema-tema yang “aman”, bisa dipastikan pengunjung akan meninggalkannya. Ranah blog sudah terlalu sesak oleh blog yang biasa-biasa saja. Nge-blog-lah dengan cara dan gaya yang berbeda — sesuatu yang unik dan khas.

Begitu pula dengan penulisannya. Meski berpengalaman menulis teks pidato presiden, Yusril sebaiknya mencoba gaya yang lain. Di ranah blog, lupakan bahasa klise, slogan, dan menggurui — seperti yang biasa ada dalam teks-teks pidato pejabat. Kreatiflah atau terbenam dalam belantara blog yang kian rimbun.

Jangan lupa pula, di ranah blog pengunjung bisa menjadi dan melakukan apa saja. Komentar para blogger bahkan bisa berkali lipat lebih pedas daripada jurnalis media konvensional mana pun. Karena itu, jangan mudah tersinggung dan sedikit-sedikit main somasi. Rileks saja, Bung!

>> UPDATE: Yusril akhirnya pindah blognya ke sini.

Iklan
Bila Yusril Ihza Mahendra Nge-Blog

Satu pemikiran pada “Bila Yusril Ihza Mahendra Nge-Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s