<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kolom Blog Wicaksono &#187; jurnalis</title>
	<atom:link href="http://kolomblog.wordpress.com/tag/jurnalis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolomblog.wordpress.com</link>
	<description>koleksi tulisan tentang blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Sep 2009 11:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kolomblog.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d6d409aa8d0d7ca7f0c28d95ac116e4d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kolom Blog Wicaksono &#187; jurnalis</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kolomblog.wordpress.com/osd.xml" title="Kolom Blog Wicaksono" />
		<item>
		<title>Narablog Vs Jurnalis</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 05:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>
		<category><![CDATA[warta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.
&#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=200&subd=kolomblog&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (<em>blogger</em>) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.</p>
<p>&#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,&#8221; kata Mat Bloger. </p>
<p>Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. &#8220;Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!&#8221; <span id="more-200"></span></p>
<p>&#8220;Eits, sampean lupa kasus Mumbai? Siapa yang pertama kali mengabarkan terjadinya serangan teroris ini? Pewarta warga juga, Kang. Dia mengirimkan pesan singkat lewat Twitter. Pesan itu terbaca wartawan seluruh dunia seperti suara sirene pemadam kebakaran. Lalu buru-buru mereka datang ke lokasi. Masih banyak contoh lain, Kang.&#8221;</p>
<p>Saya lihat paras Kang Jurnalis makin merah padam menahan amarah. Mat Bloger merasa di atas angin. &#8220;Sudahlah, Kang. Terima nasib saja. Profesi sampean sudah seperti dinosaurus. Masa depan ada di ranah digital, dan kamilah masa depan itu.&#8221;</p>
<p>Kang Jurnalis ternyata tak mau kalah. &#8220;Sampean jangan congkak, Mat. Kabar dari orang-orang seperti sampean itu sering tak akurat. Banyak yang bohong. Publik belum 100 persen percaya. Lagi pula sampean, toh, sulit memperoleh manfaat ekonomi dari jualan kabar macam itu. Kami beda. Informasi itu barang dagangan kami, para jurnalis. Berita buatan saya lebih dalam dan lebih lengkap ketimbang berita sampean, Mat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kami tak mampu berjualan informasi. Kami punya model ekonomi tersendiri, Kang.&#8221;</p>
<p>Saya geleng-geleng kepala mendengar mereka berbantah kata. Keduanya ngotot, merasa paling benar. Padahal dua-duanya tidak salah. Mereka hanya tak saling memahami. Menurut saya, baik Mat Bloger maupun Kang Jurnalis sama-sama melakukan apa yang disebut sebagai jurnalisme proses. Ketika bekerja, Mat Bloger menulis di blog, dan Kang Jurnalis membuat berita untuk korannya. Mereka sama-sama menjalankan sebuah proses. Hanya, prosesnya berlainan.</p>
<p>Orang-orang seperti Mat Bloger bekerja secara spontan. Begitu melihat sesuatu, langsung bisa mengirimkannya ke mana-mana lewat microblogging tanpa mengecek lebih jauh akurasi, keberimbangan, dan kelengkapannya. Cara ini berisiko. Laporan mungkin tak akurat dan dangkal. Tak ada konteks dan penjelasan mengapa sebuah peristiwa terjadi.</p>
<p>Kang Jurnalis tak bisa begitu. Laku jurnalistiknya melewati serangkaian tahap: peliputan, penulisan, penyuntingan, dan seterusnya. Ada hal-hal yang harus dipenuhi, seperti etika, cover both sides, juga check and recheck. Konsekuensinya, laporannya jadi lebih lama muncul. Selain itu, laporan Kang Jurnalis tak memicu interaksi dan diskusi antara si pembuat dan pembaca, seperti halnya tulisan di blog.</p>
<p>Mungkin sekarang mereka harus menerima kenyataan. Kang Jurnalis mesti memahami bahwa wajah dan model industri informasi telah berubah. Saatnya untuk beradaptasi. Sebaliknya, Mat Bloger mesti ingat bahwa pembaca mencari informasi berkualitas seperti yang sudah ditunjukkan Kang Jurnalis. Seandainya mereka mau berubah, khalayaklah yang diuntungkan. </p>
Posted in Ulasan Tagged: blogger, jurnalis, narablog, twitter, warga, warta <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=200&subd=kolomblog&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari jurnalis profesional</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2008/12/19/belajar-dari-jurnalis-profesional/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2008/12/19/belajar-dari-jurnalis-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 20:06:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[contoh]]></category>
		<category><![CDATA[isi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Bisakah blogger menjadi jurnalis warga? Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga. 
Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=113&subd=kolomblog&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bisakah blogger menjadi jurnalis warga? Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga. </p>
<p>Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.</p>
<p>Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. &#8220;Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas.&#8221; <span id="more-113"></span></p>
<p>Saya menukas. &#8220;Nggak bisa sembarangan begitu, Mat. Siapa pun bisa jadi jurnalis warga. Tapi, kalau mau serius, sebaiknya kita belajar dari ahlinya, orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya memang jurnalis, terutama ketika hendak menulis atau membuat berita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa, Mas? Apa sih yang bisa kita pelajari dari para jurnalis profesional?&#8221; tanya Mat Bloger.</p>
<p>Jurnalis profesional bekerja berdasarkan standar prosedur, undang-undang, prinsip, dan kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, mereka selalu menjadikan semua pegangan itu sebagai acuan untuk mendapatkan kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Nah, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka saat membuat berita.</p>
<p>Kejujuran. Sekali lancung ke ujian, seumur-umur sampean nggak akan dipercaya lagi oleh pembaca. Kabar bohong, menyesatkan, manipulatif, dan melanggar etika mungkin akan membuat sampean cepat populer. Tapi kelak sampean akan menuai hasilnya, kehilangan kepercayaan dan kredibilitas. Kebanyakan berita &#8220;panas&#8221; pun baru keluar setelah seorang jurnalis menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melakukan verifikasi, <em>check and recheck</em>, serta menguji ulang sumber-sumbernya.</p>
<p>Akurasi. Hasil survei Pew Centre terhadap para blogger menunjukkan 34 persen responden merasa karya mereka merupakan hasil kerja jurnalistik. Tapi hanya 56 persen di antaranya yang telah menyediakan waktu tambahan untuk memverifikasi fakta. Padahal akurasi adalah mahkota sebuah laporan. Sampean harus yakin bahwa semua bahan yang ditulis itu akurat. Sampean tak boleh salah menyebut nama dan umur sumber, tanggal, lokasi kejadian, dan sebagainya.</p>
<p>Presisi. Ketepatan penulisan adalah kunci, baik dalam menuliskan kata maupun kalimat. Ia membantu kita memperoleh respek dan legitimasi. Gunakan, misalnya, KBBI atau kamus Thesaurus sebagai pembantu mendapatkan ketepatan penulisan. Kesalahan ketik atau ejaan akan membuat pembaca ragu akan kebenaran seluruh tulisan.</p>
<p>Konsistensi. Agar jurnalis menulis secara konsisten, biasanya kantor mereka menyediakan style book. Buku panduan ini berguna agar jurnalis selalu menulis berita secara konsisten, misalnya &#8220;Yogyakarta&#8221; atau &#8220;Jogjakarta&#8221;, &#8220;10&#8243; atau &#8220;sepuluh&#8221;. Ini bukan soal benar atau salah, tapi konsistensi. Sesuatu yang konsisten membuat pembaca tak bingung.</p>
<p>Baca ulang. Para jurnalis terbiasa membaca kembali dan menyunting ulang laporan mereka. Langkah ini ditempuh guna memastikan apakah sebuah berita telah ditulis dengan akurat, presisi, dan tak mengandung kesalahan tulis atau ejaan. </p>
<p>Pastikan apakah kalimat-kalimatnya mengalir lancar. Periksa juga apakah setiap fakta, misalnya nama sumber, sudah ditulis dengan benar. Lihat apakah tata bahasa dan ejaannya sesuai dengan kaidah, tak ada kesalahan ketik, dan sebagainya. Mencegah kesalahan selalu lebih baik dari mengoreksi, bukan?</p>
Posted in Ulasan Tagged: artikel, berita, contoh, isi, jurnalis, profesional, warga <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomblog.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomblog.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomblog.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomblog.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomblog.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomblog.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomblog.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomblog.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=113&subd=kolomblog&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2008/12/19/belajar-dari-jurnalis-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiblat</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2008/04/25/kiblat/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2008/04/25/kiblat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 17:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[mainstream]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[posting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Pemain ganda. Begitulah seorang kawan menjuluki saya yang jurnalis sekaligus blogger aktif. Tentu saja ia hanya sekadar meledek, meski saya menganggapnya sebagai sanjungan. Apalagi saya memang tak pernah bermain bulu tangkis sebagai pasangan ganda putra ataupun campuran.
Sebagai pemain ganda dadakan, saya sering ditanya blogger yang ingin menulis seperti jurnalis, juga para jurnalis yang mau menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=42&subd=kolomblog&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pemain ganda. Begitulah seorang kawan menjuluki saya yang jurnalis sekaligus blogger aktif. Tentu saja ia hanya sekadar meledek, meski saya menganggapnya sebagai sanjungan. Apalagi saya memang tak pernah bermain bulu tangkis sebagai pasangan ganda putra ataupun campuran.</p>
<p>Sebagai pemain ganda dadakan, saya sering ditanya blogger yang ingin menulis seperti jurnalis, juga para jurnalis yang mau menjadi blogger. Ini yang membuat saya tak nyaman karena saya merasa belum menjadi jurnalis yang baik, pun bukan blogger piawai. Meski demikian, suka tak suka, akhirnya saya menjalani peran ganda itu semampu saya. Kepada teman-teman blogger saya berbagi kiat menulis dan dengan para kolega, saya berdiskusi soal blog. </p>
<p>Menurut hemat saya, dua dunia itu, blog dan media <em>mainstream</em>, adalah wilayah yang mirip. Blogger pada dasarnya jurnalis, begitu pula sebaliknya. Yang berbeda hanyalah media, tempat mereka berkarya. Mestinya, kedua pihak gampang untuk saling belajar, bukan malah saling menganggap sebagai ancaman. <span id="more-42"></span></p>
<p>Sebagian blogger memang sering meledek jurnalis dan media cetak sebagai makhluk purba di abad digital ini. Tapi kepada dinosaurus itulah sebenarnya blogger bisa belajar tentang standar, kaidah, metode, gaya, format, etika, dan kearifan dalam menulis. Jurnalis dan media cetak adalah kiblat penulisan yang baik bagi para blogger. Berbekal ilmu jurnalistik, selama bertahun-tahun jurnalis menulis, membuat berita, feature, dan sebagainya. </p>
<p>Untuk membuat posting yang &#8220;dalam&#8221;, yang berbeda, blogger bisa meniru jurnalis membuat laporan investigasi. Lakukan reportase, wawancarailah orang-orang yang terlibat, dan temukan informasi yang tak diketahui blogger lain. Bila informasi yang diperoleh itu bukan sesuatu yang umum, terutama yang berpotensi memicu kontroversi, sebutkan sumbernya. Kalau sumbernya ada di Internet, cantumkan alamat tautannya (<em>hyperlink</em>).</p>
<p>Pertimbangkan aspek visual sebuah posting dengan menulis secara ringkas dan cergas. Teks yang terlalu panjang akan melelahkan dan menjemukan pembaca daring (<em>online</em>). Buatlah paragraf pendek, maksimal tujuh kalimat saja. Hiasi dengan gambar atau tabel agar posting mudah dipahami dan lebih nyaman bagi mata.</p>
<p>Setiap posting hendaknya ditulis secara jernih. Posting yang jernih itu tak hanya dimengerti penulisnya, tapi juga tak ditafsirkan lain oleh pembacanya. Caranya, perlambat tempo informasi yang mengalir. Gunakan kata sederhana. Kurangi kata-kata bermakna ganda dan potong bagian yang tak perlu. Tuliskan yang ingin diungkapkan saja, jangan lebih.</p>
<p>Bagian paling penting dan paling sulit dalam membuat posting adalah judul. Membuat judul membutuhkan keterampilan. Meski di blog tersedia ruang lebar untuk membuat judul sepanjang apa pun, hukum membuat tajuk yang deskriptif tapi pendek tetap berlaku. Buatlah judul sependek mungkin, biasanya kurang dari sembilan kata, tapi menggambarkan keseluruhan cerita.</p>
<p>Tentu saja semua kiat itu tak harus dipakai di setiap posting. Saya hanya menunjukkan sedikit pelajaran jurnalistik yang bisa dicontoh blogger untuk meningkatkan kemampuan menulis. Waktu dan kreativitas blogger-lah yang akan mendorong pembaruan penulisan, seperti yang sudah dilakukan para jurnalis media cetak.</p>
<p>&gt;&gt; Diskusi tentang topik ini bisa diikuti di <a href="http://blog.tempointeraktif.com">Blog Tempo Interaktif</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kolomblog.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kolomblog.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kolomblog.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kolomblog.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kolomblog.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kolomblog.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kolomblog.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kolomblog.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kolomblog.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kolomblog.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&blog=2105951&post=42&subd=kolomblog&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2008/04/25/kiblat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>