<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kolom Blog Wicaksono</title>
	<atom:link href="http://kolomblog.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolomblog.wordpress.com</link>
	<description>koleksi tulisan tentang blog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 07:03:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kolomblog.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kolom Blog Wicaksono</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kolomblog.wordpress.com/osd.xml" title="Kolom Blog Wicaksono" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kolomblog.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Aksi Deface Situs Malaysia</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/09/07/aksi-deface-situs-malaysia/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/09/07/aksi-deface-situs-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 11:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[deface]]></category>
		<category><![CDATA[hacker]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[sites]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Demit-demit dunia maya meretas ratusan situs web Malaysia. Mereka mengubah tampilan halaman depan situs-situs itu dengan bendera Merah-Putih yang berkibar disertai tulisan &#8220;Hacked by Indonesia&#8221;. Aksi yang dilakukan pada Minggu malam sampai Senin dinihari pekan lalu itu bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia. Di tengah sedikit ketegangan hubungan antara Jakarta dan Kuala Lumpur terkait dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=215&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Demit-demit dunia maya meretas ratusan situs web Malaysia. Mereka mengubah tampilan halaman depan situs-situs itu dengan bendera Merah-Putih yang berkibar disertai tulisan &#8220;Hacked by Indonesia&#8221;. Aksi yang dilakukan pada Minggu malam sampai Senin dinihari pekan lalu itu bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia. </p>
<p>Di tengah sedikit ketegangan hubungan antara Jakarta dan Kuala Lumpur terkait dengan iklan promosi wisata Malaysia buatan <em>Discovery Channel</em>, yang menampilkan tari Pendet, aksi penyamunan digital itu kontan jadi buah bibir. Media sosial daring dan mailing list ramai membicarakan aksi para hacker itu sepanjang pekan ini.</p>
<p>&#8220;Sampean nggak ikut aksi itu, Mas?&#8221; tanya Mat Bloger.</p>
<p>&#8220;Ikut-ikutan? Buat apa? Kayak kurang kerjaan saja, Mat,&#8221; jawab saya. <span id="more-215"></span></p>
<p>&#8220;Wah, berarti sampean kurang nasionalis. Sampean ndak mau membela negara kita yang diserang. Aksi mengubah halaman depan ratusan web itu kan reaksi balasan ulah seseorang di sebuah forum daring yang mengubah syair lagu Indonesia Raya dan mempelesetkan teks Pancasila. Itu penghinaan dan pantas dilawan, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ealah, Mat. Saya ini blogger, bukan hacker. Saya ndak tahu cara meretas situs. Lagi pula, aksi seperti itu sama saja dengan aksi sweeping terhadap warga asing, yang pernah dilakukan oleh front pembela ini dan itu tempo hari. Yang dimusuhi negaranya, tapi warga asing yang tak tahu apa-apa juga jadi korban. Ini jelas ndak benar, Mat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Perang memang selalu makan korban, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masalahnya, siapa sedang yang berperang? Saya merasa kita tak sedang memerangi siapa pun, termasuk Malaysia. Konyol sekali bila kita berperang melawan negara tetangga tanpa alasan yang kuat dan masuk akal.&#8221; </p>
<p>&#8220;Lho kita sedang perang melawan mereka, Mas. Negeri jiran itu kan yang memulai. Sebelumnya, mereka mengklaim, mengaku-ngaku kekayaan budaya kita sebagai milik mereka, Mas. Batik, reog Ponorogo, tari Pendet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sabar, Mat. Sampean ndak usah bereaksi berlebihan. Santai saja. Semua sengkarut itu belum tentu kebijakan pemerintah Malaysia. Misalnya dalam kasus pelesetan lagu Indonesia Raya. Lagu itu kan ditayangkan di Internet. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa pelakunya adalah orang Malaysia? Jangan-jangan sampean pelakunya, atau teman sampean, barangkali orang dari negeri entah berantah yang sengaja memancing di air keruh. Taruh kata pelakunya memang orang Malaysia. Tapi apakah kita bisa menyimpulkan bahwa tindakan tersebut mewakili sikap seluruh rakyat atau kebijakan pemerintah Malaysia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Errr&#8230; belum tentu sih, Mas. Tapi kan kita jadi panas, nih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Makanya jangan emosional. Lihat persoalan secara jernih dan pikiran tenang. Klaim-klaim dan aksi yang menghina, melecehkan bangsa Indonesia, atau mengklaim budaya kita barangkali memang dilakukan oleh segelintir orang Malaysia. Ini mirip aksi demonstrasi membakar bendera negara asing. Bukankah tindakan ini juga bisa digolongkan sebagai penghinaan/pelecehan terhadap negara tersebut? Tapi apakah tindakan ini juga mencerminkan seluruh bangsa Indonesia anti terhadap negara tersebut? </p>
<p>Saya maklum teman-teman para peretas digital itu mungkin hendak menunjukkan kecintaan terhadap Tanah Air dengan cara seperti itu. Tapi sebetulnya mereka ndak perlu berlebihan menyikapi provokasi-provokasi dari siapa pun. Saling serang di Internet, menjarah situs web, pun rasanya cuma buang-buang energi. Ndak ada manfaatnya. Kecuali hanya untuk pamer.&#8221;</p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: deface, hacker, malaysia, sites <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=215&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/09/07/aksi-deface-situs-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video Heboh Marshanda</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/08/15/video-heboh-marshanda/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/08/15/video-heboh-marshanda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 09:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Mata Mat Bloger seolah lengket ke layar monitor siang itu. Nyaris tak berkedip. Ia bahkan tak menyadari kedatangan saya, mendekat ke meja kerjanya. &#8220;Sedang nonton apa sih, Mat? Asyik amat,&#8221; saya menegur. Mat Bloger bergeming. Saya tepuk pelan jidatnya. Dia kaget dan berteriak, &#8220;Aduh! Sontoloyo! Jangan ganggu dong, Mas. Ini lo, ada video menarik, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=210&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Mata Mat Bloger seolah lengket ke layar monitor siang itu. Nyaris tak berkedip. Ia bahkan tak menyadari kedatangan saya, mendekat ke meja kerjanya.</p>
<p>&#8220;Sedang nonton apa sih, Mat? Asyik amat,&#8221; saya menegur.</p>
<p>Mat Bloger bergeming. Saya tepuk pelan jidatnya. Dia kaget dan berteriak, &#8220;Aduh! Sontoloyo! Jangan ganggu dong, Mas. Ini lo, ada video menarik, saya ambil dari YouTube,&#8221; kata Mat Bloger.</p>
<p>&#8220;Apa sih? Film porno?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eits, bukan, Mas! Ini video Marshanda sedang jingkrak-jingkrak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah. Orang jingkrak-jingkrak kok ditonton. Kurang kerjaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eeee&#8230; yang ini beda, Mas. Sampean nggak tahu Marshanda, sih. Itu lo, pemain sinetron yang dulu sering muncul di TV.&#8221; <span id="more-210"></span></p>
<p>&#8220;Ha-ha-ha&#8230;,&#8221; saya ngakak mendengar jawaban Mat Bloger yang meledek pengetahuan saya tentang nama artis dan dunia hiburan di televisi. Dia tahu saya memang jarang nonton televisi, apalagi sinetron. Jadi, ya, wajar kalau saya bahkan tak bisa membedakan antara Marshanda atau marshmallow.</p>
<p>Tentang Marshanda, saya mengenalnya dari Google, yang menyimpan ratusan kisahnya. Lahir pada 10 Agustus 1989, gadis yang juga dipanggil Chacha ini meretas jalan popularitas lewat penampilan di beberapa iklan televisi. Lalu nama Chacha melejit di atas karpet merah kemasyhuran setelah berperan sebagai Lala dalam sinetron Bidadari. </p>
<p>Sinetron itu, konon, sukses, sehingga dilanjutkan ke Bidadari 2 sampai 104 episode. Tapi posisinya sebagai pemeran utama di Bidadari 3 ternyata digantikan pemain lain lantaran sengketa antara Chacha dan rumah produksi sinetron tersebut. Sejak itu, kemunculan wajahnya di layar kaca tak sesering dulu. Baru pada awal 2009 Chacha kembali menjadi buruan wartawan gosip setelah main dalam film Kalau Cinta Jangan Cengeng dan mengeluarkan lagu single Bernafas dengan Cintamu pada 24 Juni 2009. </p>
<p>Saya tak tahu ke mana dan apa kegiatan anak itu akhir-akhir ini, sampai kemudian videonya yang berjudul Who Do You Think You Are muncul di YouTube pada Selasa lalu, satu hari setelah Chacha berulang tahun ke-20, dan rekamannya ditonton Mat Bloger. </p>
<p>&#8220;Apa yang menarik dari video itu, Mat?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Ini bukan sembarang video, Mas. Video ini bikin heboh karena menunjukkan aksi Chacha yang sedang menyanyi sambil jingkrak-jikrak. Lalu, di sela-sela menyanyi, dia juga mencaci kawan-kawannya waktu SD dulu. Sepertinya dia dendam sekali kepada bekas kawan-kawannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ups, Chacha memaki kawannya? Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, itu dia yang saya nggak tahu, Mas.&#8221;</p>
<p>Mat Bloger lalu bercerita video itu diunggah ke YouTube oleh Marshanda. Begitu muncul, langsung ngetop, dibicarakan orang di blog-blog; Facebook, Plurk, Twitter. Lebih dari 3.500 pengunjung sempat mengakses video ini dalam satu hari. Situs berita daring pun bahkan menurunkan berita tentang video itu pada Rabu lalu. Entah kenapa video ini mendadak dihapus dan tak bisa dilihat lagi. Untung Mat Bloger sempat mengunduh, menyimpannya di laptop, dan menontonnya berulang kali.</p>
<p>&#8220;Mungkin dia merasa nggak nyaman, Mas,&#8221; kata Mat Bloger, menebak penyebab dihapusnya video itu.</p>
<p>&#8220;Bagaimana orang bisa tahu bahwa Chacha mengunggah video itu di YouTube, Mat? Apa dia pasang pengumuman?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lo, Chacha itu artis yang eksis, Mas. Gaul. Dia itu aktif menggunakan beberapa media sosial, seperti Plurk, Twitter, MySpace, Bebo, YouTube, dan iLike. Nggak usah heran bila penggemarnya di dunia maya juga banyak. Dan semuanya memantau aktivitas Chacha di ranah daring.&#8221;</p>
<p>Selebritas. News media. Social media. Video. YouTube. Kontroversi. Hapus. Viral marketing. Rekayasa. Sensasi. Gosip&#8230;.</p>
<p>Aha, sekarang saya mulai paham kenapa orang bilang &#8220;there is no business like showbiz&#8221;.</p>
<br />Posted in Ulasan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=210&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/08/15/video-heboh-marshanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Blog Korporat</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/13/membuat-blog-korporat/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/13/membuat-blog-korporat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 10:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[korporat]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari ini, Mat Bloger seperti layang-layang kurang angin. Badannya loyo. Geraknya lamban. Tampangnya pun lusuh. Saya jadi penasaran, ada apa gerangan dengan kawan saya yang biasanya bergerak liar bagaikan Kali Ciliwung di musim hujan ini? &#8220;Jago saya keok, Mas,&#8221; jawab Mat Bloger singkat. &#8220;Jago? Memangnya sampean masih suka sabung ayam? Nggak takut ditangkap polisi, Mat?&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=207&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari ini, Mat Bloger seperti layang-layang kurang angin. Badannya loyo. Geraknya lamban. Tampangnya pun lusuh. Saya jadi penasaran, ada apa gerangan dengan kawan saya yang biasanya bergerak liar bagaikan Kali Ciliwung di musim hujan ini?</p>
<p>&#8220;Jago saya keok, Mas,&#8221; jawab Mat Bloger singkat. </p>
<p>&#8220;Jago? Memangnya sampean masih suka sabung ayam? Nggak takut ditangkap polisi, Mat?&#8221; </p>
<p>&#8220;Hus, ini bukan judi sabung ayam, Mas. Ini tentang pemilihan presiden itu lo. Jago saya kalah karena mendapat suara lebih sedikit dibanding sang pemenang.&#8221; </p>
<p>&#8220;Oalah, pilpres to. Kirain sabung ayam. Ya sudah, nggak usah dipikirkan, Mat. Tenang saja. Lima tahun mendatang bakal ada lagi. Lebih baik kita ngobrol soal lain.&#8221; <span id="more-207"></span></p>
<p>&#8220;Misalnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Membuat blog perusahaan. Ini juga seperti pilpres lo, Mat. Ada taktik dan strateginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, sampean bisa saja, Mas. Dari pilpres kok langsung ke blog. Beloknya terlalu jauh itu, Mas,&#8221; kata Mat Bloger sambil tergelak. </p>
<p>Saya nyengir. Saya lalu menjelaskan alasan mengajak Mat Bloger berdiskusi tentang blog perusahaan. Kebetulan ada seorang kawan yang ingin membuat blog untuk perusahaannya (<em>corporate blog</em>). Karena nyaris tak tahu apa pun soal blog, dia lalu mengontak saya. </p>
<p>Nah, setelah bertemu dan ngobrol ngalor-ngidul, dari A sampai Z, tentang blog, dia mengajukan pertanyaan, &#8220;Bagaimana cara membuat pelanggan atau pengunjung datang dan datang lagi ke blog perusahaan saya, Mas&#8221;</p>
<p>Menurut saya, blog perusahaan dibuat, antara lain, untuk membentuk kesadaran, memberikan edukasi, dan menambah pengetahuan pelanggan. Karena itu, buatlah posting secara reguler. Isinya bukan tentang perusahaan itu sendiri, melainkan isu-isu yang berkaitan dengan industri yang digeluti. </p>
<p>Kalau sampean bergerak di industri seluler, buatlah tulisan, misalnya, tentang jenis-jenis ponsel; kelebihan dan kekurangan teknologi GSM, HSDPA, atau CDMA; atau paket data. Jika sampean bekerja di industri makanan, bisa saja menulis tentang makanan sehat, bahaya bahan pengawet, pentingnya gizi, dan seterusnya. </p>
<p>Blog perusahaan sebaiknya menjadi semacam tempat edukasi pelanggan. Bukan tempat promosi. Buatlah informasi edukasi tersebut semenarik mungkin dan membuat pembaca membutuhkannya tanpa harus menyebut merek produk atau jasa tempat sampean bekerja. </p>
<p>Usahakan agar pelanggan dapat berinteraksi tentang informasi itu, misalnya mereka dapat bertanya atau memberi masukan. Semakin sering sampean menulis hal-hal seperti itu tanpa terkesan sedang berpromosi, semakin baik juga citra perusahaan di mata pelanggan.&#8221; </p>
<p>&#8220;Boleh nggak Mas, kalau blog perusahaan dijadikan tempat publikasi siaran pers?&#8221; tanya Mat Bloger.</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak? Tapi buatlah seringkas mungkin. Dan yang penting, pelanggan dapat menanggapi isinya. Interaksi itu penting karena blog memang dirancang sebagai tempat dialog antara perusahaan dan pelanggan. </p>
<p>Agar blog perusahaan makin menarik, eluslah ego pelanggan. Tampilkan profil mereka sekali sepekan. Lengkapi dengan foto mereka. Kalau mereka juga punya blog, sertakan tautannya. Pelanggan yang diperlakukan secara personal pasti akan loyal. </p>
<p>Yang juga penting, meski ini blog perusahaan, jangan sampai isinya terkesan serius. Gunakan bahasa yang santai dan ringan. Lalu buatlah agar posting di blog itu menghibur dan menyenangkan orang. Contohnya dengan membuat permainan daring, kuis, atau jajak pendapat berhadiah. Dan, untuk memperluas jaringan, jangan lupa tautkan blog itu dengan Facebook dan media-media sosial lainnya.&#8221; </p>
<br />Posted in Gagasan Tagged: blog, korporat, perusahaan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=207&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/13/membuat-blog-korporat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujan Gugatan di Facebook</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/04/hujan-gugatan-di-facebook/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/04/hujan-gugatan-di-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 19:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gugat]]></category>
		<category><![CDATA[nama baik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[RANAH Internet makin lama kian mirip ladang ranjau. Kalau tak hati-hati melangkah, kita bakal dapat masalah. Kasus Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang digugat karena dianggap mencemarkan nama baik lewat surat elektronik, baru saja selesai. Eh, sekarang sudah terbit lagi beberapa kasus sejenis. Di Bogor, misalnya, ada Ujang yang dilaporkan ke polisi gara-gara mencaci-maki temannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=202&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>RANAH Internet makin lama kian mirip ladang ranjau. Kalau tak hati-hati melangkah, kita bakal dapat masalah. Kasus Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang digugat karena dianggap mencemarkan nama baik lewat surat elektronik, baru saja selesai. Eh, sekarang sudah terbit lagi beberapa kasus sejenis. </p>
<p>Di Bogor, misalnya, ada Ujang yang dilaporkan ke polisi gara-gara mencaci-maki temannya melalui Facebook. Ujang dianggap telah mencemarkan nama baik kawannya. Polisi lalu menjerat Ujang dengan pasal pencemaran nama baik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. </p>
<p>Di Lampung, pegawai honorer Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, M Iqbal, 27 tahun, diadukan ke Kepolisian Kota Besar Bandarlampung dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Dia disebut mencela nama rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan kotor yang tidak pantas untuk diucapkan di ruang publik, seperti Facebook. <span id="more-202"></span></p>
<p>Kasus berikutnya menimpa narablog (<em>blogger</em>) bernama Hariadhi, 23 tahun. Ia dilaporkan ke polisi karena diduga mencemarkan nama baik dan menyebarkan kabar bohong tentang Teh Botol Sosro produksi PT Sinar Sosro. Hariadhi menulis bahwa Teh Botol Sosro mengandung Hydroxillic acid, bahasa kimia untuk air yang sangat berbahaya. Dalam penjelasan di blognya (<a href="http://hariadhi.wordpress.com" rel="nofollow">http://hariadhi.wordpress.com</a>), dia mengaku terus terang memang menulis soal kandungan Teh Botol Sosro itu. Tapi tulisan tersebut sebetulnya hanya untuk kalangan terbatas, anggota mailing-list komunitas Creative Circle Indonesia (CCI), sebagai bahan diskusi. Dia menganggap milis CCI bukan tempat sembarang orang bicara dan membaca surat elektronik orang lain. </p>
<p>Rupanya tulisan itu beredar ke mana-mana, persis yang terjadi pada Prita. Manajemen PT Sinar Sosro mengetahuinya dan melaporkan Hariadhi ke polisi. Belakangan, perusahaan tersebut bersedia mencabut gugatan terhadap Hariadhi asalkan dia meminta maaf. Permintaan maaf boleh dilakukan di blog mahasiswa Institut Kesenian Jakarta itu atau di media massa. Permintaan maaf dianggap berguna untuk memulihkan nama baik PT Sinar Sosro dan masyarakat tahu informasi kandungan bahan berbahaya tersebut tidak benar.</p>
<p>&#8220;Apes amat orang-orang itu ya, Mas,&#8221; kata Mat Bloger, yang sejak tadi duduk di sebelah saya sambil membaca koran pagi. &#8220;Mereka pasti tak menduga aktivitasnya di dunia maya bakal menuai gugatan. Tapi saya juga heran, Mas, kenapa sekarang terkesan banyak orang yang tipis kuping, dan sedikit-sedikit mengaku telah dicemarkan nama baiknya, lalu lapor ke polisi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu namanya sadar hukum, Mat,&#8221; jawab saya. &#8220;Sistem hukum kita memang mengakomodasi orang yang merasa dirugikan oleh orang lain untuk melapor ke polisi. Menggugat itu hak setiap orang. Perkara apakah gugatannya bakal dikabulkan atau tidak oleh pengadilan, itu soal nanti. Saya rasa kasus yang menimpa Ujang, Iqbal, dan Hariadhi bukan yang terakhir. Seiring dengan meningkatnya jumlah dan aktivitas pengguna media sosial, saya yakin kasus yang sama akan terjadi lagi. Akan ada lagi orang yang menulis dan dituduh mencemarkan nama baik seseorang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, gawat dong, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, hiperbolik. Apanya yang gawat, Mat? Sepanjang sampean menulis berdasarkan fakta dan dilengkapi bukti-bukti, bukan menyebarkan kabar bohong, saya rasa sampean nggak perlu khawatir. Media sosial seperti blog, microblogging, atau Facebook itu merupakan wilayah publik. Ia tempat sampean menerbitkan pendapat, gagasan, komentar, karya, dan sebagainya. </p>
<p>Sesuatu yang dipublikasikan mengandung risiko. Jika bohong, orang lain bisa dirugikan. Bila salah atau tak akurat, bisa menimbulkan masalah. Hak orang juga berpotensi dilanggar. Karena itu, sampean perlu menyadari konsekuensi menerbitkan sesuatu di media dan jejaring sosial. Jangan asal tulis, klik, dan tayangkan. Kecuali sampean memang senang mengambil risiko dan siap memikul tanggung jawab atas segala perbuatan sampean.&#8221; </p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: facebook, gugat, nama baik, pencemaran, polisi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=202&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/07/04/hujan-gugatan-di-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Narablog Vs Jurnalis</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 05:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>
		<category><![CDATA[warta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi. &#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=200&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (<em>blogger</em>) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.</p>
<p>&#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,&#8221; kata Mat Bloger. </p>
<p>Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. &#8220;Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!&#8221; <span id="more-200"></span></p>
<p>&#8220;Eits, sampean lupa kasus Mumbai? Siapa yang pertama kali mengabarkan terjadinya serangan teroris ini? Pewarta warga juga, Kang. Dia mengirimkan pesan singkat lewat Twitter. Pesan itu terbaca wartawan seluruh dunia seperti suara sirene pemadam kebakaran. Lalu buru-buru mereka datang ke lokasi. Masih banyak contoh lain, Kang.&#8221;</p>
<p>Saya lihat paras Kang Jurnalis makin merah padam menahan amarah. Mat Bloger merasa di atas angin. &#8220;Sudahlah, Kang. Terima nasib saja. Profesi sampean sudah seperti dinosaurus. Masa depan ada di ranah digital, dan kamilah masa depan itu.&#8221;</p>
<p>Kang Jurnalis ternyata tak mau kalah. &#8220;Sampean jangan congkak, Mat. Kabar dari orang-orang seperti sampean itu sering tak akurat. Banyak yang bohong. Publik belum 100 persen percaya. Lagi pula sampean, toh, sulit memperoleh manfaat ekonomi dari jualan kabar macam itu. Kami beda. Informasi itu barang dagangan kami, para jurnalis. Berita buatan saya lebih dalam dan lebih lengkap ketimbang berita sampean, Mat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kami tak mampu berjualan informasi. Kami punya model ekonomi tersendiri, Kang.&#8221;</p>
<p>Saya geleng-geleng kepala mendengar mereka berbantah kata. Keduanya ngotot, merasa paling benar. Padahal dua-duanya tidak salah. Mereka hanya tak saling memahami. Menurut saya, baik Mat Bloger maupun Kang Jurnalis sama-sama melakukan apa yang disebut sebagai jurnalisme proses. Ketika bekerja, Mat Bloger menulis di blog, dan Kang Jurnalis membuat berita untuk korannya. Mereka sama-sama menjalankan sebuah proses. Hanya, prosesnya berlainan.</p>
<p>Orang-orang seperti Mat Bloger bekerja secara spontan. Begitu melihat sesuatu, langsung bisa mengirimkannya ke mana-mana lewat microblogging tanpa mengecek lebih jauh akurasi, keberimbangan, dan kelengkapannya. Cara ini berisiko. Laporan mungkin tak akurat dan dangkal. Tak ada konteks dan penjelasan mengapa sebuah peristiwa terjadi.</p>
<p>Kang Jurnalis tak bisa begitu. Laku jurnalistiknya melewati serangkaian tahap: peliputan, penulisan, penyuntingan, dan seterusnya. Ada hal-hal yang harus dipenuhi, seperti etika, cover both sides, juga check and recheck. Konsekuensinya, laporannya jadi lebih lama muncul. Selain itu, laporan Kang Jurnalis tak memicu interaksi dan diskusi antara si pembuat dan pembaca, seperti halnya tulisan di blog.</p>
<p>Mungkin sekarang mereka harus menerima kenyataan. Kang Jurnalis mesti memahami bahwa wajah dan model industri informasi telah berubah. Saatnya untuk beradaptasi. Sebaliknya, Mat Bloger mesti ingat bahwa pembaca mencari informasi berkualitas seperti yang sudah ditunjukkan Kang Jurnalis. Seandainya mereka mau berubah, khalayaklah yang diuntungkan. </p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: blogger, jurnalis, narablog, twitter, warga, warta <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=200&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/30/narablog-vs-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlukah Kita Ganyang Blog Malaysia?</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/21/perlukah-kita-ganyang-blog-malaysia/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/21/perlukah-kita-ganyang-blog-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 13:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Malaysia tak hanya memprovokasi Indonesia di perairan sekitar Ambalat. Di ranah blog, provokasi dari negeri jiran itu juga bertebaran. Salah satunya diungkapkan oleh seorang yang mengaku sebagai pendukung Malaysia yang katanya pernah berkunjung ke Indonesia. Blog tersebut, menurut sang pemilik yang mengaku masih 18 tahun, dibuat sebagai tandingan blog-blog Indonesia yang menghujat Malaysia. Blog anti-Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=198&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Malaysia tak hanya memprovokasi Indonesia di perairan sekitar Ambalat. Di ranah blog, provokasi dari negeri jiran itu juga bertebaran. Salah satunya diungkapkan oleh seorang yang mengaku sebagai pendukung Malaysia yang katanya pernah berkunjung ke Indonesia. Blog tersebut, menurut sang pemilik yang mengaku masih 18 tahun, dibuat sebagai tandingan blog-blog Indonesia yang menghujat Malaysia. Blog anti-Indonesia itu mendapat pasokan &#8220;bahan bakar&#8221; dari isu tentang Ambalat dan berita seputar Manohara Pinot.</p>
<p>&#8220;Alamat blognya di mana, Mas? Saya mau ganyang dia,&#8221; kata Mat Bloger berapi-api.</p>
<p>&#8220;Halah, kemlinthi. Memangnya sampean itu siapa, Mat? Polisi? Preman? Anggota laskar atau front pembela ini dan itu? Saya justru sengaja tak mau memberi tahu alamat blog itu supaya sampean tak ikut-ikutan menyerang blog itu. Bukannya berhenti, nanti blog itu malah populer, dan tujuannya menarik perhatian tercapai kalau kita bereaksi.&#8221; <span id="more-198"></span></p>
<p>&#8220;Lo, nggak bisa begitu dong, Mas. Ini soal nasionalisme dan patriotisme. Harga diri. Kalau ada orang asing yang menjelek-jelekkan Indonesia, kita harus membela. Bila perlu, kita balas menyerang mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ho-ho-ho&#8230; keren. Tapi menurut saya nggak usah sampai segitunya, Mat. Narablog (<em>blogger</em>) itu mestinya bukan orang yang bersumbu pendek. Tak perlulah kita terpancing dan menanggapi provokasi semacam itu. Lagi pula kemunculan sejumlah narablog pendukung Malaysia itu hanyalah semacam gelombang aksi balasan setelah banyak narablog Indonesia yang membuat blog kecaman terhadap negeri jiran tersebut. </p>
<p>Sampean tentunya masih ingat Mat, ketika dua tahun lalu meletus perang antarblog Indonesia dan Malaysia. Api peperangan dipicu oleh klaim Malaysia atas lagu Rasa Sayange, batik, dan sebagainya. Narablog Indonesia lalu membuat posting di blog, lengkap dengan banner, yang meledek negeri jiran itu sebagai maling. Aksi ini dibalas oleh blog yang membuat tulisan parodi dengan judul <em>Pancagila Negara Indon</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh iya, Mas. Waktu itu saya sempat ikut-ikutan menyebarkan banner bertulisan &#8216;Malingsia&#8217; ke mana-mana, ha-ha-ha&#8230;,&#8221; kata Mat Bloger.</p>
<p>&#8220;Oalah, dasar sampean anak nakal. Ya sudah, nggak usah diulangi. Perang kata di blog sih boleh-boleh saja, Mat. Selain lebih sehat, baku serang lewat tulisan itu tak menelan korban jiwa. Tapi apakah sampean tak jadi lelah sendiri? Adakah faedahnya? </p>
<p>Menurut saya sih, tak ada. Buat saya, blog-blog semacam itu tak lebih dari selingan di antara pekerjaan sehari-hari yang menguras tenaga dan pikiran. Sebuah lelucon belaka. Saya tak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius, misalnya kampanye hitam bagi Indonesia, melainkan hanya sekadar buah karya orang iseng. </p>
<p>Di ranah Internet semua orang bisa melakukan apa saja, termasuk berbuat usil. Selalu ada saja narablog yang memancing di air keruh untuk mempopulerkan blognya. Bahkan dalam setiap kejadian yang kontroversial, selalu ada orang yang mengambil posisi berlawanan arus demi mengejar statistik, menaikkan jumlah kunjungan dan komentar yang berderetan.</p>
<p>Terlalu berlebihan kalau kita buang-buang waktu, tenaga, juga pikiran untuk menanggapi atau bereaksi keras terhadap blog itu. Anggap saja pemilik blog itu seperti petasan kecil yang meletup di malam Lebaran. Masih banyak urusan yang lebih penting dan mendesak ketimbang memperhatikan blog kontroversial itu. Seperti halnya blog-blog sejenis yang pernah muncul, blog yang menjengkelkan itu pasti bakal segera dilupakan orang. Oke?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap, Mas!&#8221; </p>
<p>&#8220;Lanjutkan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wooo &#8230; malah sampean malah ikut-ikutan kampanye. Semprul!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha-ha-ha &#8230;.&#8221;</p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: blog, indonesia, malaysia, narablog <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=198&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/21/perlukah-kita-ganyang-blog-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Boediono Mendengar Lewat Blog</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/13/bila-boediono-mendengar-lewat-blog/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/13/bila-boediono-mendengar-lewat-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 19:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[boediono]]></category>
		<category><![CDATA[cawapres]]></category>
		<category><![CDATA[obama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Seorang blogger baru telah lahir. Kenalkan, namanya Boediono. Ya, Boediono yang calon wakil presiden itu. Dia sekarang memiliki blog berjudul Boediono Mendengar. Di ruang sosial daring inilah mantan gubernur Bank Indonesia itu akan berinteraksi dengan khalayak, baik yang mendukung maupun menentangnya. &#8220;Ah, yang bener, Mas? Memangnya siapa yang mengajari Pak Boed membuat blog?&#8221; tanya Mat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=192&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang blogger baru telah lahir. Kenalkan, namanya Boediono. Ya, Boediono yang calon wakil presiden itu. Dia sekarang memiliki blog berjudul <a href="http://boedionomendengar.com">Boediono Mendengar</a>. Di ruang sosial daring inilah mantan gubernur Bank Indonesia itu akan berinteraksi dengan khalayak, baik yang mendukung maupun menentangnya.</p>
<p>&#8220;Ah, yang bener, Mas? Memangnya siapa yang mengajari Pak Boed membuat blog?&#8221; tanya Mat Bloger.</p>
<p>&#8220;Saya nggak tahu, Mat. Dan nggak penting juga mengetahui siapa yang memberi dia inspirasi dan pelajaran mengenai blog.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, kemlinthi. Sampean pasti kura-kura dalam perahu. Ya kan, Mas?&#8221; <span id="more-192"></span></p>
<p>&#8220;Eh, kok nggak percaya sih? Ya sudah, terserah sampean.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke, Mas. Lantas, menurut sampean, untuk apa Pak Boed membuat blog? Apakah dia juga akan merawat blognya seperti halnya sampean?&#8221;</p>
<p><a href="http://boedionomendengar.com"><img src="http://kolomblog.files.wordpress.com/2009/06/boediono-blog1.jpg?w=300&#038;h=196" alt="boediono-blog" title="boediono-blog" width="300" height="196" class="aligncenter size-medium wp-image-196" /></a></p>
<p>&#8220;Begini, Mat,&#8221; saya memulai diskusi dengan Mat Bloger. &#8220;Para pemasar dan para juru poles citra (d/h petugas humas) di luar sana sudah lama memakai blog sebagai senjata pelengkap menjual dagangan. Di ranah politik, para politikus juga mulai memanfaatkan blog sebagai alat pemasaran. Yang dipasarkan tentu saja diri mereka sendiri. Pemicunya adalah kesuksesan Barack Obama meraih kursi kepresidenan satu di Amerika Serikat, antara lain berkat keberhasilannya memanfaatkan blog dan media sosial daring (online).</p>
<p>Para politikus Tanah Air pun ternyata hendak mengikuti jejak Obama. Mereka menganggap Internet dan ekosistemnya, antara lain blog, microblogging, dan Facebook, merupakan tiket mencapai kesuksesan. Para calon presiden dan wakil presiden merasa perlu berbicara dan harus tampil sebanyak mungkin di media-media sosial daring&#8211;seperti yang dilakukan Obama.</p>
<p>Upaya ini tentu sah-sah saja. Bahkan, menurut saya, langkah itu sudah tepat. Blog memang bisa menolong seorang kandidat calon memperkenalkan diri, berkampanye, dan membentuk brand image. Konstituen bisa menengok profil, rekam jejak, juga gagasan yang ditawarkan seorang calon legislator di blog. Dari bloglah publik mengenal profil sang calon sehingga bisa memutuskan akan memilih atau tidak.</p>
<p>Hanya, diperlukan ketekunan dan keseriusan para politikus mengelola media sosial seperti blog. Membangun blog adalah langkah pertama. Langkah berikutnya ada merawatnya. Caranya? Pertama, berlakulah seperti layaknya penerbit koran. Buatlah tulisan dan terbitkan secara rutin sehingga pengunjung selalu mendapatkan hal baru. Isi blog yang selalu basi tak membuat orang tertarik datang lagi.</p>
<p>Berikutnya, kenali khalayak dan ciptakan komunitas. Cari tahu bagaimana profil, preferensi, tabiat mereka. Penuhi apa yang mereka suka dan tidak. Blogger yang mengabaikan pembacanya pasti dianggap ogah akrab dan bakal dijauhi. Blogger yang loyal akan membentuk komunitas dengan sendirinya. Komunitas adalah basis pendukung yang setidaknya akan meningkatkan statistik blog.</p>
<p>Selain itu, buatlah agar blog menjadi media interaktif. Sebab, pada dasarnya blog adalah ruang dialog, tempat pemiliknya mendengar dan berbicara. Tapi jangan sampai mengontrol respons khalayak. Mereka pasti tak suka. Lebih baik lakukan pendekatan persuasif.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kiat-kiat itu pasti akan berhasil memikat khalayak, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya nggak tahu, Mat. Khalayak memiliki kearifan sendiri. Tapi saya rasa dengan cara-cara sederhana seperti itu, setidaknya seorang blogger telah menunjukkan niat baik. Apakah hasilnya akan diterima publik atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting bagi seorang blogger, siapa pun dia, adalah membuktikan bahwa blognya memang dibangun atas dasar hasrat berbagi dan bukan semata-mata menjual kecap.&#8221;</p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: blog, boediono, cawapres, obama <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=192&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/13/bila-boediono-mendengar-lewat-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kolomblog.files.wordpress.com/2009/06/boediono-blog1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">boediono-blog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Kasus Prita Mulyasari</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/08/belajar-dari-kasus-prita-mulyasari/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/08/belajar-dari-kasus-prita-mulyasari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 10:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[kasus]]></category>
		<category><![CDATA[omni]]></category>
		<category><![CDATA[prita mulyasari]]></category>
		<category><![CDATA[uuite]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Kasus Prita Mulyasari telah membuka mata sekaligus membangkitkan rasa jeri di kalangan blogger. Ibu dua anak balita itu digugat oleh Rumah Sakit Internasional Omni, Tangerang, karena dianggap mencemarkan nama baik lewat surat elektronik. Warga Tangerang ini bahkan sempat mendekam di penjara wanita selama 20 hari. Mat Bloger, misalnya, baru tahu bahwa sebuah e-mail ternyata bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=190&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kasus Prita Mulyasari telah membuka mata sekaligus membangkitkan rasa jeri di kalangan blogger. Ibu dua anak balita itu digugat oleh Rumah Sakit Internasional Omni, Tangerang, karena dianggap mencemarkan nama baik lewat surat elektronik. Warga Tangerang ini bahkan sempat mendekam di penjara wanita selama 20 hari.</p>
<p>Mat Bloger, misalnya, baru tahu bahwa sebuah e-mail ternyata bisa mengirim seseorang ke meja hijau, bahkan ke penjara, meski hanya sebentar. Baru kali ini dia mengerti semua aktivitasnya di ranah Internet berpotensi menuai tuntutan hukum. Setiap orang bisa dilaporkan ke polisi atau digugat karena tulisan yang dipublikasikan di Internet. Tak mengherankan bila Mat Bloger jadi takut kasus Prita juga bakal menimpa dirinya. </p>
<p>&#8220;Ngeri juga kan, Mas, kalau harus masuk bui hanya karena tulisan di blog dianggap mencemarkan nama baik seseorang. Apalagi saya memang sering mengkritik, Mas,&#8221; kata Mat Bloger. <span id="more-190"></span></p>
<p>Saya agak geli sekaligus prihatin melihat wajah Mat Bloger yang memelas seperti itu. Tapi saya maklum. Mat Bloger memang kerap membuat posting panas di blognya. Ia, misalnya, pernah mempublikasikan foto wajah wakil rakyat yang sedang tidur di ruang sidang. Lain waktu, ia mengeluhkan buruknya layanan modem bergerak sebuah operator seluler. Ia bahkan pernah meledek mahalnya harga merek sebuah telepon seluler pintar yang sedang laris.</p>
<p>Tapi Mat Bloger tak sendirian. Banyak blogger yang juga kerap menulis kritik terhadap sebuah produk atau layanan. Mereka kini dibayang-bayangi ketakutan yang sama: bakal masuk penjara hanya lantaran tulisan yang membuat seseorang tak nyaman. Padahal semestinya mereka tak perlu khawatir secara berlebihan.</p>
<p>&#8220;Sampean mestinya jangan takut kehilangan kebebasan mengutarakan opini di Internet hanya karena kasus Bu Prita itu, Mat. Hati-hati boleh, takut jangan,&#8221; saya mencoba menenangkan hatinya.</p>
<p>&#8220;Kenapa begitu, Mas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena konstitusi menjamin setiap hak warga negara menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan. Sebagai konsumen, hak dan kewajiban sampean pun diatur oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Seandainya semua orang takut mengabarkan adanya kesalahan atau ketidaknyamanan sebuah layanan, apa kata dunia, Mat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kan, contohnya sudah ada, Mas. Ya, Ibu Prita itu. Niatnya mau curhat, eh, malah digugat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam kasus ini, menurut saya, kekisruhan telah terjadi. Ibu itu tak seharusnya dipidanakan surat elektronik. Apalagi bukan dia sendiri yang menyebarluaskan e-mail ke milis-milis, forum, dan situs berita, melainkan orang lain. Ia mengirimkan e-mail tentang Omni itu ke sepuluh teman saja&#8211;dalam ruang lingkup pribadi. Setiap informasi yang disampaikan melalui Internet, selama hanya disebarluaskan dalam ruang lingkup pribadi, seharusnya tidak bisa dituntut. Batasan ruang lingkup pribadi hingga kini masih abu-abu dan harus dijabarkan lebih terperinci dalam peraturan pemerintah. Peraturan ini belum selesai dibuat, masih dalam bentuk rancangan. Tapi rupanya polisi dan jaksa malah memanfaatkan celah ini untuk menjerat Prita.</p>
<p>Nah, agar tak kejeblos di lubang yang sama, sampean sebaiknya mulai dari sekarang mempelajari berbagai undang-undang yang mengatur aktivitas di ranah Internet. Bacalah hak dan kewajiban sampean sebagai warga negara maupun konsumen. Sampean mungkin juga perlu memahami etika berinternet agar tak melanggar hak orang lain. Saya bukan menakut-nakuti, tapi mewanti-wanti agar sampean berhati-hati dan terhindar dari jerat hukum.&#8221; </p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: kasus, omni, prita mulyasari, uuite <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=190&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/06/08/belajar-dari-kasus-prita-mulyasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prita Dipenjara Karena Gugatan Omni</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/30/prita-dipenjara-karena-gugatan-omni/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/30/prita-dipenjara-karena-gugatan-omni/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 22:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[alam sutera]]></category>
		<category><![CDATA[gugat]]></category>
		<category><![CDATA[omni]]></category>
		<category><![CDATA[prita mulyasari]]></category>
		<category><![CDATA[tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[uuite]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[MAT Bloger mendadak datang dengan paras memerah seperti kerbau disunat. Matanya melotot. Mulutnya berbusa-busa. Tak henti-hentinya dia mengumpat dan memberondongkan sumpah serapah. &#8220;Asem, semprul, sontoloyo. Rumah sakit macam apa itu? Bukannya menolong orang sakit, malah mengirimkan mantan pasiennya ke penjara,&#8221; begitu Mat Bloger melontarkan makian. Saya kaget. Kenapa Mat Bloger mendadak berang tanpa ada angin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=184&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>MAT Bloger mendadak datang dengan paras memerah seperti kerbau disunat. Matanya melotot. Mulutnya berbusa-busa. Tak henti-hentinya dia mengumpat dan memberondongkan sumpah serapah.</p>
<p>&#8220;Asem, semprul, sontoloyo. Rumah sakit macam apa itu? Bukannya menolong orang sakit, malah mengirimkan mantan pasiennya ke penjara,&#8221; begitu Mat Bloger melontarkan makian.</p>
<p>Saya kaget. Kenapa Mat Bloger mendadak berang tanpa ada angin dan hujan. Sambil meletakkan koran yang sedang saya baca, saya pun menyapa dia. &#8220;Waduh, ada apa gerangan, Mat? Kenapa sampean tiba-tiba marah-marah begini? Kalah taruhan?&#8221; <span id="more-184"></span></p>
<p>&#8220;Bukan, Mas,&#8221; jawab Mat Bloger. &#8220;Saya marah karena ada ibu rumah tangga yang ditahan gara-gara menulis e-mail.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok bisa, Mat? Apa masalahnya?&#8221;</p>
<p>Mat Bloger lalu menuturkan kisah tentang Prita Mulyasari, yang sejak 13 Mei lalu dititipkan Kejaksaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang. Ia menjadi tahanan dalam kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.</p>
<p>&#8220;Kenapa dia dianggap mencemarkan nama baik, Mat?&#8221;</p>
<p>Mat Bloger mengatakan kasus ini bermula dari surat elektronik Prita pada 7 Agustus 2008. Surat itu berisi keluhannya ketika ia dirawat di Omni. Surat yang semula hanya ditujukan ke teman-temannya itu ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet, dan diketahui oleh manajemen Rumah Sakit Omni.</p>
<p>PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, rupanya menganggap nama baiknya tercemar oleh surat tersebut. Mereka lalu menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana. Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita kalah dalam gugatan perdata. Sedangkan sidang pidananya akan berlangsung pekan depan.</p>
<p>&#8220;Terus terang saya merasa prihatin dan bersimpati terhadap Prita, Mas,&#8221; kata Mat Bloger. &#8220;Saya merasa dia tak layak dihukum seberat itu, bahkan sampai masuk penjara. Ini jelas teror bagi kita, konsumen, yang sering kali diperlakukan tak layak dan tak adil, tapi ketika mengeluh, malah dituduh mencemarkan nama baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setuju, Mat. Ini teror. Kita harus melawan. Tapi mungkin juga ada hikmahnya buat kita. Kasus yang dialami Prita bisa menimpa siapa saja, saya atau sampean, juga blogger lain yang kerap menulis keluhan terhadap sebuah produk atau layanan di blognya. </p>
<p>Supaya kita terhindar dari jeratan hukum atau setidaknya mengurangi akibat yang lebih fatal, sampean perlu tahu caranya. Kiat ini penting karena sebagai blogger, sampean tentu tak bisa menghindar dari tuntutan hukum atas segala aktivitas yang sampean publikasikan.</p>
<p>Pertama, sampean tak perlu mencari perhatian dengan membuat judul tulisan yang terlampau provokatif semata-mata demi sensasi dan lonjakan <em>traffic</em>. Cara seperti ini bisa-bisa malah menjadi bumerang untuk kita.</p>
<p>Fokuskan tulisan pada masalah yang sampean alami atau keluhkan, dan bukan terhadap orang/lembaganya. Kritiklah kinerja atau layanan mereka, bukan menjelekkan namanya.</p>
<p>Meski mengritik, sebaiknya sampean juga memberikan solusi. Sampaikan kritik dengan bahasa yang santun agar orang yang dikritik tak merasa terhina dan marah. Lalu jangan segan meminta maaf. Jika kritik atau keluhan sampean ternyata salah, sebaiknya segera meminta maaf.</p>
<p>Terakhir, kalau sampean hendak mengkritik, sebaiknya sampean juga harus siap menerima masukan atau keberatan pembaca. Dengan cara itu, kita mungkin akan terhindar dari komplikasi hukum yang tak perlu.&#8221; </p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: alam sutera, gugat, omni, prita mulyasari, tangerang, uuite <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=184&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/30/prita-dipenjara-karena-gugatan-omni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Blogger Disamakan dengan Jurnalis</title>
		<link>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/23/blogger-disamakan-dengan-jurnalis/</link>
		<comments>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/23/blogger-disamakan-dengan-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 00:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>me</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[mahkamah konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[pasal karet]]></category>
		<category><![CDATA[uuite]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolomblog.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kado datang dari Mahkamah Konstitusi. Pada awal Mei lalu, Mahkamah menolak permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Teknologi yang diajukan oleh Narliswandi Piliang alias Iwan Piliang, Edy Cahyono, Nenda Inasa Fadhilah, Amrie Hakim, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Aliansi Jurnalis Indonesia, serta Lembaga Bantuan Hukum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=176&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kado datang dari Mahkamah Konstitusi. Pada awal Mei lalu, Mahkamah menolak permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Teknologi yang diajukan oleh Narliswandi Piliang alias Iwan Piliang, Edy Cahyono, Nenda Inasa Fadhilah, Amrie Hakim, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Aliansi Jurnalis Indonesia, serta Lembaga Bantuan Hukum Pers.</p>
<p>Putusan itu merupakan jawaban bagi para pemohon yang menggugat Pasal 27 ayat 3. Pasal ini berisi larangan bagi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. </p>
<p>Dalam permohonan mereka, para penggugat menganggap pasal tersebut multitafsir sehingga dapat menimbulkan ketidakpastian hukum. Tidak ada kejelasan apakah yang dimaksud penyebaran informasi itu adalah perbedaan pendapat, kritik, atau bahkan penghinaan terhadap presiden atau pejabat publik.</p>
<p>&#8220;Berarti kado pahit dong, Mas?&#8221; tanya Mat Bloger. <span id="more-176"></span></p>
<p>&#8220;Nggak juga, Mat. Mahkamah Konstitusi memang menolak permohonan para penggugat itu. Tapi, dalam putusannya, Mahkamah memberi catatan penjelasan mengenai kedudukan pasal karet itu. Penjelasan mereka bahkan menyebut tentang blog dan blogger.&#8221;</p>
<p>&#8220;Penjelasan? Maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini, Mat. Menurut Mahkamah, pasal yang digugat itu adalah delik aduan. Delik ini tidak bisa langsung dijalankan tanpa ada orang yang mengadu terlebih dulu. Selain itu, hanya pelaku utama yang bisa dijerat dengan pasal itu. Orang yang hanya memberikan tautan ataupun menyebarluaskan informasi atawa pelaku penyertaan, tidak bisa dijaring dengan pasal itu.</p>
<p>Pasal karet pun tak dapat digunakan oleh badan hukum/institusi yang tercemar nama baiknya. Artinya, hanya orang yang berhak mengadu dengan pasal itu.</p>
<p>Mahkamah juga menilai blog dan blogger memiliki peran yang sama dengan pers, yaitu sebagai salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasas prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.</p>
<p>Sepanjang konteksnya masih dalam ranah publik, tidak mengganggu privasi seseorang, maka komunitas-komunitas dunia daring akan tetap memiliki kemerdekaan melakukan kontrol sosial.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, keren sekali, Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, iya. Yang lebih keren lagi Mat, penjelasan itu bisa disebut sebagai sebuah kado yang manis karena Mahkamah Konstitusi mengakui, menghargai, dan memahami eksistensi ranah blog dan blogger di Indonesia. Bandingkan dengan nasib blog dan blogger di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, atau Burma, yang ditekan oleh pemerintahnya. Kita layak menghargai keputusan Mahkamah ini.</p>
<p>Meski demikian, posisi dan peran blogger yang dianggap setara dengan pers/jurnalis tentu membawa risiko dan konsekuensi sendiri. Blogger, misalnya, perlu mempertimbangkan etika dan nilai-nilai tertentu seperti halnya pers memiliki etika dan kaidah jurnalistik ketika menulis di blog. Bersediakah kita, para blogger, menerima tantangan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, itu yang berat, Mas.&#8221;</p>
<br />Posted in Ulasan Tagged: blogger, mahkamah konstitusi, pasal karet, uuite <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kolomblog.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kolomblog.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kolomblog.wordpress.com&#038;blog=2105951&#038;post=176&#038;subd=kolomblog&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolomblog.wordpress.com/2009/05/23/blogger-disamakan-dengan-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/f4e6e5a09a2f11d49cb0fcf169103565?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">me</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
