26 Oktober 2007 • 5:57 am
Seorang teman yang belum pernah punya blog mau membuat blog untuk mendapat uang tambahan. Ia lalu bertanya apa yang sebaiknya atau jangan dilakukan?
Pertama, jangan numpang di penyedia hosting gratis, seperti Blogger dan WordPress. Mengapa? Dengan indekos di sana, blogger tak memiliki kendali penuh atas blog-nya. Kontrol sepenuhnya ada di tangan penyedia hosting. Blogger yang punya hobi mengutak-atik blog jelas tak bisa berkreasi “semau gue”.
Saya bukan hendak mengatakan penyedia hosting gratis itu jelek, karena sebetulnya mereka menyediakan layanan cukup bagus, melainkan lantaran mereka menerapkan beberapa pembatasan. WordPress, contohnya, tak membolehkan “anak kos”-nya memasang iklan (adsense). Ini jelas merugikan blogger yang berniat memperoleh rezeki lewat blog. Read the rest of this entry »
Filed under: Gagasan , blog, blogger, content, google, marketing, pb2007, wordpress
19 Oktober 2007 • 5:53 am
Untuk apa kita nge-blog? Apa arti penting blog itu? Begitulah beberapa pertanyaan yang sering saya dapat dari beberapa teman.
Karena tak bisa langsung menjawab pertanyaan itu, biasanya saya balas bertanya, “Kenapa sampean menanyakannya?”
Biasanya pula, kalau saya sudah mengeluarkan jurus pamungkas mengelak dari pertanyaan seperti itu, mereka cuma bisa tertawa ngakak.
Salah seorang teman lalu mengatakan, “Soalnya, saya nggak habis pikir, Mas. Kok, ya, bisa-bisanya para blogger itu saling berhubungan, meskipun mereka tak pernah bertemu muka. Bagaimana mereka bisa asyik ngobrol tentang apa saja via Internet? Apa yang menyatukan mereka? Apa yang membuat mereka saling percaya?” Read the rest of this entry »
Filed under: Gagasan , blog, blogger, kopdar, pb2007, solidarity
Syahdan pada sebuah malam sehabis buka puasa, saya cari angin dengan jalan-jalan di sekeliling rumah. Saya heran, kenapa hawa jadi begitu lembap dan panas di bulan puasa, ya? Efek pemanasan global? Musim hujan mau datang? Saya tak tahu.
Tengah asyik-asyiknya berjalan kaki sambil menghirup udara malam itu, saya melihat dua tetangga sedang duduk berdua di pos ronda. Kebetulan saya sudah lama tak melihat mereka.
Sekadar berbasa-basi, saya pun menyapa mereka. “Selamat malam, Pak. Tumben, nih, jam segini sudah di pos.”
Mereka terkekeh dan menjawab, “Wah, terbalik, Mas. Tumben sampean ada di rumah. Biasanya tak pernah kelihatan. Nggak kerja, nih? Libur?” Read the rest of this entry »
Filed under: Gagasan , communication, Gagasan, internet, social life
Komentar Terakhir